Begitu Pagi

  
 

Begitu pagi menghadirkan embun

Di atas daun,

yang mengira dirinya kukuh

pada pilu musim hujan yang teramat kaku

 

Pada bumantala yang berpenghuni sendirinya

Menyeruak jelak hawa,

Menimbun gelak tawa

 

Didapati embun yang tak sanggup menggantungkan diri berlama lama

Yang pada akhirnya merambat,

lambat – lambat,

Kemudian jatuh ke lahat

 

Sayang. . .

Begitu pagi terhadir embun kembali

Mestinya dedaunan semakin tabah seiring hari

 

Sayang begitu pagi. . .

Mestinya dia terus berkemas diri

Menjawab teka teki

perihal embun yang ‘kan jatuh esok pagi.

Puisi Lucu

  
Aku melelapkanmu,

Kau memimpikannya.

 

Aku memegang tanganmu,

Kau mengikat kenangannya.

 

Aku menunggu adamu,

Kau menuju padanya.

 

Aku memeluk tubuhmu,

Kau membayangkan hangatnya.

 

Aku mendamba padamu,

Kau menghamba bayangnya.

 

Aku bagimu begitu lucu

Kau bagiku begitu lugu

Kau kuanggap merah jambu

Aku kau anggap kelabu

 

Lucu, begitu lucu

Hingga rasanya t’lah habis tawaku.

Tak Setara

  
 

Kukira warasmu terlalu kejam

Memakan cirimu diam diam

Dan kegilaanku begitu cantik

Melangkah antik dalam nada klasik

 

Kau dan kewarasanmu

Ialah beda, berpisah

Sedang aku dan kegilaanku

Ialah sama, bersua

 

Kami seberangi sungai gendala bersama sama

 

Genapmu seakan ganjil

Dan ganjilku selalu tergenapi

Kau nyaman dengan berkilah

Aku tertawa dengan bergila

 

Kita tak searah,

tak setara.

Sebelum Pergi

  
 

Rumah demi rumah di kepalaku

Memanggil pulang kembali

 

Yang ketika kukunjungi,

Kisah kisah lalu mulai menua

Pudar membungkam lelahnya

 

Tak nampak dari jendela

Hanya saja, kutahu rindu terkurung

berkeliaran di dalamnya

 

Segalaku kini tenang

Segalamu kini terang

 

Biarkan, bernafas sebelum pergi.

Kemarin Sore

  

Aku enggan menulis puisi,

Puisi berisimu tak lagi berisik

 

Aku tetaplah senja itu

Dan kau tetap langitnya

Tapi disini, musim berganti ganti

Dan kau tlah punya musim sendiri

 

Aku tak berselera kini

Bekal itu sudah basi

Sisa sisa di sore kemarin

Mana bisa kumakan lagi?

 

Setelah keempat kali,

Kubiarkan Juni makan sendiri

Dia tak perlu lagi disuapi.

Penghuni

  

Maka siapa gerangan

yang kau izinkan?

 

Kau iming imingi kenyang

Dahaga itu kau biarkan

Jamuan tak kau sajikan

Bebuahan pun tiada, gersang

 

Pintu terbuka s’lalu kau biarkan

Tak lain sekedar pesanggrahan

 

Yang boleh tinggal harus dikenal

Yang dikenal, adanya tak boleh tinggal

 

Menetap,

mungkin kau tak paham

Menentu itu, pantang berlalu

Antara

  
 

Surya lamban lamban berarak

Malam malam memuak

Keheningan meriak riak

 

Padamu, memihak jarak

Padaku, bungkam berteriak

Kita, pada antara yang kesekian kalinya

 

Sirat sirat diisi bantah

Akankah menjadi entah

Satu

  
Belum usai berpangku gusar

Bermandi sekolam debar

 

Yang rasanya satu

Pernah dan hanya itu

Pertama pada setelahnya

Meski kutiru engganlah sama

 

Sejajar dinanti nanti

Serupa tiada pernah di sini

Mungkin bukan satu

Semata tak kunjung temu

 

Semesta!

Hantarkan lagi satu