
Siang itu kami meneror sepasang kecoa dengan obat nyamuk semprot aroma bunga merah jambu. Selain senang melihat reaksi kecoa yang kena semprot obat nyamuk, kami suka sensasi menyemprotkan isi tabung ini ke segala arah. Wanginya menyebar-nyebar di tubuh, membuat kami merasa seperti laki-laki dewasa dalam iklan televisi.
Dalam iklan televisi seorang laki-laki kerempeng menjadi kejaran banyak perempuan setelah ia menyemprotkan isi tabung—yang lebih kecil dari tabung kami—ke sekujur tubuhnya. Pikirku waktu itu: jika yang kecil saja bisa membuatnya begitu, apalagi yang besar? Maka, supaya makin mirip, kami pun membuka baju seragam masing-masing.
“Semprot aku dulu!” pinta Mail. Dengan senang hati kuarahkan titik semprotan ke udelnya. Dia berjoget-joget seperti kegelian, tapi senang juga.
Sayangnya, kesenangan tak berlangsung lama sebab jogetan berganti garukan. Kulihat di tubuh Mail mulai banyak bentolan merah—semakin digaruk, semakin sambung-menyambung membentuk pulau-pulau lebar. Rasa gatalnya bisa kubayangkan seketika, tapi yang benar-benar kurasakan saat itu adalah basah di telapak tangan. Tabung obat nyamuk perlahan melorot dari genggamanku.
Aku pun lari kencang ke kamar, mengambil minyak kayu putih. Begitu kembali, kulihat Mail sudah telentang dan tak lagi menggaruk-garuk. Kuusap-usapkan minyak kayu putih ke sekujur tubuhnya yang membentol sembari ragu-ragu meletakkan jari ke lubang hidungnya.
***
Malam ini saya terbangun dan mencium kembali aroma bunga merah jambu itu. Sudah berkali-kali saya bilang kepada istri untuk tidak membeli obat nyamuk semprot beraroma itu, tapi selalu dibalasnya saya dengan, “Kamu ndak pernah mau bantu semprot nyamuk, jadi ndak usah pilih-pilih!”
Saya tahu kecoa-kecoa itu menyukai ruang gelap. Mereka mengambil makanan entah dari mana dan bagaimana, lalu bersembunyi dan menikmati makanan di sudut-sudut gelap rumah ini; di bawah meja kerja, di kolong tempat tidur, di balik lemari.
Suatu hari, ketika jari tengah kiri saya—yang membawa secuil upil basah—meraba bagian bawah meja, ia tak sengaja menyentuh sederetan benda yang menempel di sana. Bagai tersengat listrik, jari-jari kiri lainnya menegang dan tanpa sadar menekan benda asing tersebut. Bunyi krecek! terdengar, disusul lengket lendir yang melekati jari-jari kiri saya, dan begitu saya lihat mereka, lendir itu menatap saya dengan jernih dan bernyali. Saya pun tertantang untuk mengendusnya.
Setelah kejadian itu saya mengungsi bersama laptop ke teras rumah, berdesakan dengan tanaman-tanaman hias istri saya—yang kerap kali memicu perdebatan kami. Bukan perdebatan besar, hanya soal selera. Saya sebenarnya lebih suka tanaman yang bisa dikonsumsi, sehingga kami tak perlu banyak membeli bahan baku makanan ke pasar; agar ia tak perlu melakukan tawar-menawar—yang seringnya memupuk perasaan dongkol alih-alih karib.
Pernah di satu akhir pekan saya tawari istri saya belanja ke fresh market.
“Berapa sih gajimu sampai mau ajak saya belanja ke sana? Masih untung saya teguh hati mengencangkan ikat pinggang!” rongsengnya sekonyong-konyong.
Sejak itulah saya mulai bertegar-tegar melumat omelan ia perihal pasar, sebagaimana saya terpaksa mengunyah seluruh masakan buatannya yang kerap kali tak sedap di lidah. Ada kalanya sesajian di meja makan terlalu manis kecap pada telur bacem; atau terlalu pedas lada pada telur orek di hari lain; bisa juga terlalu berminyak pada tumisan udang; atau bahkan sekadar kurang garam pada rebusan ikan kuah kuning; pun—yang paling tak nyaman di lidah—terlalu kental tepung maizena pada cah kangkung.
Ada kalanya saya ingin perubahan. Saya ingin rasa yang biasa-biasa saja, tapi saya tahu istri saya bukan orang yang bisa diajak ganti selera. Walaupun demikian, sesekali saya iseng berupaya.
“Jika punya uang lebih, saya mau tanam kacang panjang dan cabe merah di dekat pagar,” ungkap saya sambil jongkok di sampingnya. Istri saya, yang waktu itu baru selesai menata dua tanaman hias barunya—yang entah apa namanya—langsung mengusap-usapkan kedua telapak tangannya ke wajah saya, membuat tanah humus basah menempel-nempel di area pipi dan hidung dan jidat saya.
“Kenapa ndak kerja di meja?” tanya istri saya suatu hari begitu menyadari bahwa posisi pot tanaman hiasnya berubah jadi lebih dempet.
“Ada telur kecoa di bawah meja,” respons saya sekenanya.
“Dari mana tahu itu telur kecoa?”
“Saya cari di internet.”
“Apa kata kuncinya?”
“Telur hewan mirip kacang merah kecil.”
Istri saya melangkah menuju meja kerja, “Memangnya begitu bentuknya? Kamu bohong!”
“Betul. Saya sempat memegangnya.”
“Ini,” ditengok-tengoknya bagian bawah meja itu, “Ndak ada benda yang bentuknya seperti kacang merah di sini. Kamu bohong! Malah banyak upil kering. Sialan! Sudah saya bilang berkali-kali, jangan sembarangan buang upil. Kotor! Itu yang bikin kecoa betah di rumah ini. Astaga!”
Saya diam sejenak. Barangkali telur-telur itu telah menetas semua. Aduh, berbahaya ini.
Malam itu saya terbangun dan mendapati tubuh seorang anak kecil berdiri di depan pintu kamar saya dan istri. Dia mendekati saya dengan cara merayap perlahan, diselingi langkah cepat beberapa kali, seperti kecoa yang lewat di tengah ruangan terang. Dia menuju saya. Dia merayapi tubuh saya. Dia menjilati betis, paha, kemaluan, perut, dada, serta dagu saya. Bau jilatan itu membuat saya ingin muntah sesegera. Saya mencoba bergerak, tapi tangan-tangan dan kaki-kakinya menahan kedua tangan dan kedua kaki saya sembari bibirnya berbisik ke telinga kiri saya, “Kakak, ayo pulang!”
Malam ini saya mengajak istri menikmati kudapan laut di kedai pinggir pantai—tak jauh dari rumah. Saya tahu tak ‘kan ada pertanyaan darinya bilamana saya mengajaknya pergi senang-senang, padahal saya ingin ditanya-tanya. Sungguhpun demikian, tak mengapa, sebab saya sedang senang. Jadi, biarkan jabatan baru saya ini mencuat tegas di hadapannya dalam bentuk slip gaji.
Begitu duduk menunggu makanan yang telah dipesan, istri saya senyum-senyum ria sambil menepuk-nepuk tangan saya, “Kemarin waktu kamu pergi dinas, saya bunuh empat kecoa! Mereka semua muncul dari balik lemari dekat meja kerjamu itu. Kamu tahu, saya semprot mereka pakai obat nyamuk berkali-kali. Setiap kali kaki-kakinya mulai meronta, saya semprotkan lagi obat nyamuk ke arahnya!”
Saya mau sergap tangannya dan bilang setop, tapi kedua tangan istri saya tiba-tiba berubah jadi rententan telur kecoa yang pecah. Bukan main jijiknya! Kepala saya seketika pening.
“Wajah saya sedikit pedih, mungkin karena obat nyamuk itu, ya! Dan …” Dia masih terus melontarkan pengalamannya dengan kecoa-kecoa itu sementara pikiran saya terbang ke sebuah tanggal di mana saya masih berusia lima menyaksikan dua kecoa bergerak-gerak sampai menghilang ke kolong meja, dan saya pun menyaksikan adik saya yang mulai memerah wajahnya, tapi masih bersemangat menyemprotkan obat nyamuk ke kolong meja. Kami menengok ke kolong dengan menyujudkan tubuh dan memiringkan kepala. Ada satu kecoa yang kini berbalik badan. Kaki-kakinya yang hitam memaku pandangan kami.
Pesanan kami datang dan ponsel saya bunyi; kedua-duanya berhasil menahan istri saya untuk melanjutkan ceritanya. Ia beralih memandang ponsel di atas meja yang masih terus berbunyi, dan begitu membaca nama si penelpon, ia bertanya, “Kenapa ndak diangkat? Barangkali penting. Jarang lho ibumu telepon-telepon.”
“Biarkan.”
“Jangan begitu, ah!”
“Ayo pulang!” ajak saya sambil menjangkau tisu, lalu mengelap kedua telapak tangan yang sejak tadi telah basah.
“Kok tiba-tiba?” sergah istri saya sewot. Ia meraih ponselnya lalu pergi meninggalkan meja tanpa membawa tas serta jaketnya.
Saya lantas memanggil pelayan untuk bayar dan minta pesanan ini semua bungkus.
Sesampainya di rumah, istri saya lari masuk kemudian mengunci pintu depan dari dalam. Tak tok tak tok suara sepatunya menjauh dari pendengaran saya, begitu pula dering telepon yang saya tandai bersumber dari ponsel saya. Tak lama, terdengar suara istri saya meminta maaf sambil tertawa-tawa.
“Pak Ishaq! Ngapain jam segini di luar?”
Saya menoleh, dan mendapati segerombolan bapak-bapak yang beberapa di antaranya membawa kentongan ronda. “Berangkat ronda, Pak?” tanya saya sembari berjalan menuju gerbang.
Mereka cekikikan, kemudian salah satu menggoyang-goyangkan gerbang rumah saya. “Dikuncikan istri lagi, ya? Ayo, ikut kami saja malam ini. Ada cilok hangat,” ujarnya sembari menunjukkan rantang susun di tangan kanannya, “Saya bikin sendiri, lho!”
Saya merasa tak punya pilihan lain. Daripada tidur bersama tanaman hias di lantai yang dingin, lebih baik saya merebahkan diri di pos ronda sambil makan cilok hangat buatan Pak Yusuf.
Namanya pos ronda, di mana-mana pasti ramai dan menyimpan aroma yang kadang tak seperti di rumah sendiri. Dengan mudah saya mencicipi empat tusuk cilok hangat, tapi kemudian sulit meluruskan tubuh karena sudah ada empat pemuda yang sedang leyeh-leyeh ketika kami datang. Saya hendak menyandarkan punggung di salah satu pojokan pos ronda ketika seorang pemuda berkata, “Pak, coba periksa dulu tempat duduknya. Tadi kami habis bunuh kecoa di situ.”
Saya melompat ringan, lalu beranjak keluar dari pos ronda.
“Kenapa ndak bilang dari awal? Kasihan Pak Ishaq sampai kaget begitu,” tegur Pak Isa.
Si pemuda yang menunjuk lokasi pembunuhan kecoa belum selesai mengucapkan kata maafnya ketika seorang pemuda lainnya menyambar, “Tadi kami juga kaget, Pak! Kecoa itu tiba-tiba nemplok di rambut saya. Terus dia ini,” anak itu menuding si pemuda yang menunjuk lokasi pembunuhan kecoa, “Ndak bilang-bilang ada kecoa, main pukul kepala saja!”
Kemudian si pemuda selain dua orang itu menambahkan—setelah selesai mengunyah ciloknya, “Tapi, ternyata kecoanya belum mati, dia jatuh dan bergerak-gerak. Saya lihat ada botol bir bekas di sini, nah, itu saya pakai gencet … kecoa itu!”
“Keluar isi perutnya!” sahut seorang pemuda selain tiga orang itu.
“Terus … saya … sepak dia,” ujar si pemuda yang rambutnya ditemploki kecoa.
Diam-diam, saya tinggalkan mereka.
Subuh ini saya terbangun oleh suara-suara sayup, seperti suara ibu, suara bapak. Keduanya memanggil-manggil nama adik saya. Keduanya menyumpahi saya. Keduanya menangis sendu untuk dia. Suara tangis mereka menahan-nahan darah saya untuk mengalir rapi. Sekujur tubuh saya jadi kesemutan. Saya mesti beranjak. Tidak bisa. Saya merasakan geli. Di beberapa bagian, gelinya mulai menjalar. Rasanya tubuh saya dirayapi hewan-hewan berkaki banyak. Geli. Geli sekali. Membuat saya ingin kencing. Saya takut kencing sambil berbaring seperti ini; nanti bapak semakin marah, nanti saya dibiarkan tidur di jalan, nanti saya disuruh menyusul dia. Terasa sebagian besar kulit saya menebal. Semakin kebas. Mulai panas. Mulai bau. Saya ingin muntah.
2025
- Kecoa - 12 September 2025
- Puisi-Puisi Ilda Karwayu - 11 January 2022
- Mengintip Ketabahan Masyarakat Korea Selatan - 2 November 2019


Ibas
Musuhku adalah kecoa ..
Tapi pas ngaca liat kecoa ..
Dasar kecoa bgst
Edi Purwanto
Keren
Bagas Kara
baguss, kreatif bisa menginspirasi dari kecoa untuk membuat cerita seperti ini
Ayu candra
Kecoa itu memang salah satu serangga paling mengganggu … !!!