SYARIFAH

Satu bulan sebelum ibunya diusir dari kampung halamannya, Zaina kawin lari dengan Maman Abdurrahman. Perkawinan yang tidak dikehendaki itu membuat Faruq Al Faruki mengamuk. Faruq tidak mampu menahan dirinya dan mengusir adik iparnya, ibu dari Zaina, karena telah mencemari nama baik keluarga. Baru saja ia mengatur pernikahan Zaina, keponakannya itu malah lari dengan lelaki yang tidak jelas asal-usulnya. Padahal telah dipilihkan jodoh yang tidak hanya setara dengannya, tetapi juga mampu mengangkat derajat hidupnya.

Lelaki yang dijodohkan dengan Zaina bernama Alwi Al Haddar. Ia adalah anak dari sahabat kecil Faruq Al Faruki, seorang pengusaha furnitur yang dulunya pernah tinggal di kampung Arab, sebelum membangun kerajaan bisnisnya dan pindah ke kota. Alwi merupakan anak laki-laki satu-satunya di keluarga itu. Apa kekurangan Alwi? Faruq tidak sampai nyali bertanya. Benar-benar tiada cela pada pemuda itu. Ia berwajah rupawan dan bertutur halus dan berbudi luhur. Setidaknya itu yang tampak di mata Faruq. Cara Alwi berkomunikasi menunjukkan dirinya berasal dari kalangan terpelajar. Alwi juga terkenal rajin, tidak seperti kebanyakan lelaki di kampungnya, yang hari-harinya hanya diisi dengan majlas[1] tidak jelas. Setiap harinya Alwi membantu usaha orang tuanya sambil berproses menyelesaikan studinya di salah satu kampus paling bergengsi di kota. Faruq benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan Zaina, menukar emas dengan limbahnya.

Tidak hanya Faruq yang dibuat pusing oleh tingkah tercela Zaina, semua orang di kampung dibuatnya heran, mengapa Zaina meninggalkan Alwi yang tampan juga mapan demi seorang Maman. Langit dan bumi pun tak cukup memperlihatkan betapa kontras keduanya. Orang seperti Maman sangat tidak pantas membuat Zaina meninggalkan rumah dan keluarganya. Kaya? Sama sekali tidak. Maman hanya pria miskin yang tinggal di kaki gunung tempat orang-orang menambang emas liar. Rajin? Rasanya kata itu bukanlah predikat yang tepat untuk diberikan kepada Maman. Tampan? Maman terlalu jauh dari kata ini, bahkan tampan akan lari terbirit-birit jika bertemu Maman. Tak ada satu kriteria yang membanggakan melekat pada diri Maman sampai membuat seorang perempuan rela dibuang keluarganya.

Tidak ada yang percaya apa yang dilakukan Zaina, dilakukannya dengan penuh kesadaran. Banyak yang menyangkutpautkan kawin larinya Zaina dengan ilmu hitam. Semua yang mengenal Zaina, jika tidak mengatakan ia bodoh, berpikir kalau Zaina kena pelet. Sangat tidak masuk akal apa yang dilakukannya, meninggalkan seorang sayyid[2]dari keluarga terpandang, seorang kaya yang dengannya hidup akan lebih mudah, demi seorang pria miskin yang tidak jelas asal-usulnya.

***

Tiga hari setelah Zaina kawin lari dengan Maman, tiada libur orang-orang di kampung membicarakannya. Dari kios yang satu ke kios yang lain, dari warung satu ke warung yang lain, orang-orang terus berspekulasi kenapa Zaina mau kawin lari dengan Maman. Zurriya sampai jengah mendengarkan orang-orang membicarakan hal yang tidak baik tentang sepupunya itu. Tidak hanya karena pertalian darah antara dirinya dengan Zaina yang membuatnya kesal mendengar orang-orang membicarakan gadis itu, tetapi juga karena ia dan Ziana adalah sahabat sejak kecil. Persahabatan yang mengikat dirinya dan Zaina lebih kuat daripada pertalian darah. Itu sebabnya ia tidak tahan mendengar apa yang orang-orang katakan tentang Zaina. Apalagi ia tahu apa yang dikatakan orang-orang tentang sepupunya itu tidak benar. Sangat-sangat tidak benar.

Pernah ketika berbelanja sayur di depan rumahnya, ia hampir tidak bisa menahan diri mendengar tiga orang ibu muda sedang menjelek-jelekkan Zaina. Mereka membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang membuat Zaina kawin lari dengan Maman Abdurrahman.

“Mungkin Zaina dipelet,” kata Rodhiya.

“Sudah jelas itu. Cuma orang buta yang kuat lihat Maman setiap hari. Saya kalau bangun tidur terus nengok ke sebelah dan ada Maman, bakalan dibawa ke UGD,” balas Tanzia.

Kecuali Zurriya, semua orang yang ada di sana tertawa. Bahkan abang penjual sayur yang tidak terlalu mengerti apa yang mereka bicarakan, ikut tertawa.

“Eh, tapi … tapi ….” Rizkia yang terkenal suka menambah bumbu pada ceritanya, ikut menyumbangkan pendapat. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, lalu ketika matanya bertemu dengan Zurriya, ia memelankan nada bicaranya. “Saya dengar bukan itu alasan Zaina kabur sama Maman ….” kata Rizkia separuh berbisik. Perempuan itu kemudian meminta kedua temannya untuk mendekat. Kedua perempuan itu langsung merapatkan telinga ke mulut Rizkia. Zurriya memperhatikan mulut perempuan penyebar gosip itu ketika berbicara. Seketika itu juga ia ingin menyumpal mulut Rizkia dengan sandal tebal yang melapis kakinya.

“Betul juga. Saya lihat dia agak gemukan sekarang,” ujar Rodhiya.

“Pantas saja dia mau sama Maman,” timpal Tanzia.

“Nah, benar, kan?” kata Rizkia.

Mendengar itu telinga Zurriya seperti disiram air cabai. Ia tidak tahu pasti apa yang dikatakan Rizkia, ia tidak bisa mendengarnya, tetapi dari apa yang dikatakan orang-orang itu setelahnya, ia bisa menerka apa yang kira-kira dikatakan perempuan itu. Memang telah lama Rizkia iri kepada sepupunya. Perempuan itu kerap menjelek-jelekkan Zaina di balik punggungnya. Kali ini, perempuan sialan itu bahkan tidak merasa perlu menunggu dirinya pergi. Karenanya, ia benar-benar menyayangkan keputusan Zaina yang memberikan modal buat perempuan tukang gosip itu untuk menyakitinya.

***

Sebenarnya perjodohan itu awalnya baik-baik saja. Bermula dari orang tua Alwi yang sudah siap untuk mewariskan bisnis mereka untuk dikelola oleh anak laki-laki semata wayangnya dengan satu syarat: Alwi harus bersedia menikah dengan gadis pilihan mereka, seorang syarifah[3] yang sanad keluarganya jelas. Dimintalah Faruq mencarikan jodoh di kampungnya, yang juga adalah kampung ayah dan ibu Alwi dahulu. Orang tua Alwi menginginkan gadis yang berasal dari golongan mereka agar Alwi tidak lupa jati dirinya. Selain itu, mereka percaya, perempuan desa lebih mudah diatur dan lebih penurut ketimbang perempuan kota. Keduanya resah dengan pergaulan kota yang mereka anggap kebablasan. Mereka takut anak mereka yang suci dapat perempuan yang tak suci.

Awalnya Alwi menolak ide konyol tentang perjodohan itu. “Masa saya harus nikah dengan dia? Mana bisa saya nyambung,” kata Alwi. Di dalam kepalanya, ia yakin perempuan itu pasti sekolot Khalati[4] Mina, dengan gamis ketinggalan zaman membalut tubuh gemuknya. Ia tidak sanggup membayangkan harus bersama perempuan macam itu seumur hidupnya. Ia menolak upaya perjodohan itu dengan segala alasan yang dibuat-buat. Ibunya tidak ambil pusing dengan apa yang dikatakan putranya. Ia sodorkan foto gadis itu. “Kalau merasa cocok langsung ketemu. Kalau memang tidak cocok, tidak apa-apa,” kata ibunya.

Begitu melihat foto Zaina, Alwi menelan kembali apa yang dikatakannya. Wajah Zaina serupa bidadari dalam cerita fiksi yang digambarkan secara berlebihan oleh para pengarang roman picisan. Ketika mata Alwi tak berkedip menatap foto Zaina, ibunya langsung berkomentar. “Ini masih foto, kamu belum melihat langsung. Aslinya jauh lebih cantik,” kata wanita itu menyindir putranya. Setelah bertukar foto dan menyatakan bersedia, Alwi dan Zaina dipertemukan untuk saling mengenal.

Pertemuan pertama lancar saja. Zaina kelihatan tertarik dengan laku Alwi yang benar-benar mencerminkan seorang terpelajar. Alwi berbicara dengan tutur lembut nan sopan. Tidak sekali pun ia meninggikan nada bicaranya ketika berbicara dengan Zaina. Ia juga tidak terburu-buru seperti kebanyakan lelaki di kampungnya. Alwi juga merasakan hal yang sama kepada Zaina. Ia bahkan semakin bergairah setelah melihat kecantikan Zaina secara langsung. Zaina terlihat jauh lebih cantik daripada yang dilihatnya di foto. Kulitnya begitu putih hingga urat-urat halus membayang di pipinya. Tubuhnya proporsional. Meski dibalut gamis berwarna biru, Alwi bisa melihat apa yang disembunyikan gadis itu.

Pertemuan kedua juga tidak ada masalah. Masalah baru muncul di pertemuan ketiga. Zaina tiba-tiba berubah. Ia menjadi dingin dan terlihat tidak ingin melanjutkan perjodohan. Hubungan keduanya mulai memburuk. Zaina terlihat mulai menjaga jarak. Sampai suatu ketika, hari itu tiba, hari ketika Zaina lari oleh pria yang belum lama dikenalnya. Peristiwa itu membuat orang-orang terkejut. Alwi tidak kalah terkejutnya. Ia berpikir perempuan selugu Zaina bisa ia taklukan seperti banyak perempuan-perempuan yang ia kenal dulu. Tidak pernah terbayangkan Zaina akan kabur meninggalkannya. Ia benar-benar menyesali apa yang terjadi.

***

Tujuh bulan setelah pengusiran ibunya, Zaina dibuat bimbang apakah pulang ke tempat ibunya atau tidak. Telah berkali-kali ia terpikir untuk pulang. Ia pernah hampir pulang saat mendengar apa yang menimpa ibu dan adiknya. Namun, nyalinya surut. Sejak pengusiran itu, ibunya, seorang janda yang tinggal bersama anak laki-lakinya yang komponen otaknya tidak lengkap, harus bersusah payah menghidupi diri dan putranya dengan membuka warung di sebuah daerah sepi penduduk. Desa itu sangat berbeda jauh dengan desa tempat mereka tinggal sebelumnya yang sesak oleh aktivitas manusia. Tertatih-tatih kehidupan perempuan tua itu, dan Zaina tiada lagi di sana membantunya. Ia sendiri tidak kalah susahnya. Suaminya jarang pulang. Maman lebih sering keluyuran ketimbang berada di rumah. Ia juga malas bekerja, dan setiap hari, kerjanya hanya berjudi di pasar. Di pasar itu juga ia kerap membual tentang kehebatannya berhasil mendapatkan Zaina kepada teman-temannya, ditemani tuak dan para pemabuk.

Saat suaminya berjudi dan minum-minum, Zaina tinggal di rumah mengerjakan segala pekerjaan rumah, membantu ayah dan ibu mertuanya berladang. Semua dikerjakan dengan perut yang mulai membesar. Ia tengah hamil besar dan suaminya hampir tidak pernah menemaninya, membantu atau sekadar meringankan pekerjaannya. Lelaki itu bukan hanya jarang pulang, tetapi mulai memperlihatkan diri yang sebenarnya. Ia mulai berani berbicara kasar kepada istrinya. Sebelumnya Maman tidak pernah seperti itu. Sebelumnya ia melarang istrinya untuk bekerja berat. Sebelumnya ia tidak akan membiarkan kulit putih menyala istrinya bermandikan matahari. Sekarang ia kerap meminta Zaina mengerjakan banyak hal. Namun, dari semua itu yang paling membuat Zaina sebal dengan Maman adalah ia mendengar Maman sering main dengan perempuan yang usianya hampir dua kali lipat usia Zaina, perempuan yang penampilannya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Zaina.

***

Dua minggu sebelum ia kawin lari dengan Maman, Zaina mendatangi Zurriya. Perempuan ini merupakan tempat ia menceritakan segala masalahnya. Ia pikir, ia bisa membagikan masalah yang kini menimpanya. Namun, begitu ia mencoba, ia malah menceritakan sesuatu yang lain.

“Alwi mengajak aku haggar[5],” ujarnya.

Zurriya terperangah mendengar apa yang dikatakan Zaina. “Terus kamu ….” Ia tidak cukup mampu untuk menyelesaikan apa yang dikatakannya.

“Aku, ya, ndak mau. Tapi dia terus maksa. Katanya tidak masalah, toh bentar lagi kita nikah.”

“Manusia bejat! Dia pasti sudah sering begitu.”

Zaina tidak mengatakan apa-apa. Matanya tertuju pada pintu kamar Husein bin Jadid, kakak kandung Zurriya, yang maskulinitasnya terkenal seantero Kampung Arab. Husein belum lama ini meninggalkan rumah, berangkat ke Malaysia untuk bekerja bersama pamannya yang telah lebih dahulu merantau ke sana. Tersebar kabar ia kabur ke Malaysia karena beberapa perempuan mendatanginya, meminta pertanggungjawaban atas apa yang telah ia lakukan kepada mereka.

Mata Zaina terus menatap kosong ke arah pintu kamar Husein bin Jadid, dan ia masih tidak bisa mengatakan apa yang ingin dikatakannya. Zaina hanya bisa mengelus perutnya. Ia sudah terlambat datang bulan. (*)

Blencong, 2025


[1] Kumpul-kumpul/nongkrong yang biasanya dilakukan pemuda/pemudi keturunan Arab

[2] Panggilan familiar untuk laki-laki keturunan Rasulullah SAW dari jalur Sayyidina Husain

[3] Panggilan familiar untuk perempuan keturunan Rasulullah SAW dari jalur Sayyidina Husain

[4] Bibi dari pihak ibu

[5] Berhubungan seksual

Aliurridha
Latest posts by Aliurridha (see all)

Comments

  1. Khikmatul Husna Reply

    Bahasanya mengalir. Sepertinya cerpen ini berlatar belakang sebuah daerah atau perkampungan kauman, yang di daerah tersebut terdapat sebuah ponpes. Karena kebetulan saya juga tumbuh besar di daerah kauman namun di provinsi Jawa.

  2. M.S. Madani Reply

    Selalu suka dengan cerpen Kak Aliurridha

  3. ATHOILLAH Reply

    Menarik, dan sangat kompleks. Di permukaan, sampai kalimat terakhir, saya tetap tidak mengerti mengapa Zaina memilih Maman. Kalaupun benar Zaina hamil dari Husein dan kuatir akan terbongkar jika melakukan haggar dengan Alwi, apakah ia berpendapat Maman tidak akan pernah menyadari ketidaksuciannya?
    apakah cerita ini tentang kesucian perempuan? saya kira tidak sesederhana itu. Yang jelas cerita semacam ini hanya mungkin ditulis oleh “orang dalam”.

  4. Kinuk kinkin Reply

    Sungguh plot twist cerpennya.

  5. were Reply

    Akibat zina dapat suami berakhlak buruk,Alwi beruntung ditinggalkan,orang desa belum tentu lugu,andai tdk berhubungan intim dgn Kakak sepupu akan dpt suami dari kota yang ganteng dan mapan.Gjtu inti ceritanya versi aku😁

  6. Fatir Reply

    Kisah nya menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!