0% found this document useful (0 votes)
76 views15 pages

Pairs-Share Dalam Pembelajaran Matematika Terhadap

This document discusses the impact of the Think-Pairs-Share cooperative learning model on students' mathematical concept understanding abilities and character development in high school in Sungai Penuh City. The study found that the mathematical concept understanding ability and honest, responsible, and disciplined character of students using the Think-Pairs-Share model were better than those not using the model.

Uploaded by

Henry Green
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
76 views15 pages

Pairs-Share Dalam Pembelajaran Matematika Terhadap

This document discusses the impact of the Think-Pairs-Share cooperative learning model on students' mathematical concept understanding abilities and character development in high school in Sungai Penuh City. The study found that the mathematical concept understanding ability and honest, responsible, and disciplined character of students using the Think-Pairs-Share model were better than those not using the model.

Uploaded by

Henry Green
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd

7

©Edumatika Jurnal Riset Pendidikan Matematika e-ISSN 2620-8911


Volume 1, Nomor 1, Mei 2018 p-ISSN 2620-8903

Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-


Pairs-Share Dalam Pembelajaran Matematika Terhadap
Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis dan
Pengembangan Karakter Siswa SMA Kota Sungai Penuh
Maila Sari1, Mhmd Habibi2, Rahmi Putri3
1,2,3
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Kerinci

.
Abstract. Mathematics teachers are required not only to transfer knowledge to learners, but also to
shape and develop the character of students in the learning process of mathematics. To be able to
grow and develop the character of students required a model of learning that can bring the character
formation indicators in the learning process. The learning model that can generate character
development indicators is a Think-Pairs-Share (TPS) model of learning. This study aims to determine
1) the ability to understand students' concepts using the TPS learning model and the ability to
understand students' concepts that do not use the TPS learning model, 2) the honest character,
responsibility, and discipline of students using the TPS learning model and the honest character, and
discipline students who do not use the TPS learning model. The result of data analysis shows that: 1)
the ability of students' concepts understanding using the TPS learning model is better than the
students' concepts comprehension skills that do not use the TPS learning model, 2) the honest
character, responsibility, and discipline of students using the TPS learning model more both
compared to the honest characters, responsibility and discipline of students who do not use the TPS
learning model.

Keywords: Think-Pair-Share, Charecters Development, Matemathical Concepts Understanding

Abstrak. Guru matematika dituntut tidak hanya dapat menstransfer ilmu pengetahuan saja kepada
peserta didik, namun juga dapat membentuk dan mengembangkan karakter siswa dalam proses
pembelajaran matematika. Untuk dapat menumbuhkan dan mengembangkan karakter siswa
dibutuhkan suatu model pembelajaran yang dapat memunculkan indikator pembentukan karakter
dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran yang dapat memunculkan indikator pengembangan
karakter adalah model pembelajaran Think-Pairs-Share (TPS). Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui 1) kemampuan pemahaman konsep siswa yang menggunakan model pembelajaran TPS
dan kemampuan pemahaman konsep siswa yang tidak menggunakan model pembelajaran TPS, 2)
karakter jujur, tanggung jawab, dan disiplin siswa yang menggunakan model pembelajaran TPS dan
karakter jujur, tanggung jawab dan disiplin siswa yang tidak menggunakan model pembelajaran TPS.
Hasil analisis data menunjukkan bahwa: 1) kemampuan pemahaman konsep siswa yang menggunakan
model pembelajaran TPS lebih baik dibandingkan dengan kemampuan pemahaman konsep siswa
yang tidak menggunakan model pembelajaran TPS, 2) karakter jujur, tanggung jawab, dan disiplin
siswa yang menggunakan model pembelajaran TPS lebih baik dibandingkan dengan karakter jujur,
tanggung jawab dan disiplin siswa yang tidak menggunakan model pembelajaran TPS.

Kata kunci: Think-Pair-Share, Pengembangan Karakter, Pemahaman Konsep Matematis

Available online at Journal homepage: [Link]/[Link]/edumatika


Email: edumatika@[Link]
8
©Edumatika Jurnal Riset Pendidikan Matematika e-ISSN 2620-8911
Volume 1, Nomor 1, Mei 2018 p-ISSN 2620-8903

PENDAHULUAN

Pendidikan karakter dan penanaman nilai selama ini hanya dilakukan secara parsial dan
dianggap menjadi tanggung jawab dan wewenang guru -guru tertentu. Penanaman nilai-nilai
religius dianggap menjadi wilayah guru agama melalui Pendidikan Agama Islam (PAI), sedang
penanaman nilai moral, toleransi, nasionalisme diserahkan pada guru PPKn. Guru tersebut secara
faktua mempunyai keterbatasan baik dalam hal alokasi waktu maupun otoritas dan kapasitas untuk
mengaitkan dengan konstekstual kehidupan, sehingga pendidikan karakter dan penanaman nilai
relatif kurang berhasil.
Kekurangberhasilan penanaman nilai dan karakter melalui pendekatan parsial baik disekolah
secara khusus maupun masyarakat secara umum, tampak adanya penurunan moral generasi muda
kita. Indikator yang sangat nyata adalah semakin meningkatnya para pelajar yang terlibat tawuran,
tindakan pidana, terjerat narkoba, pencurian, pemerkosaan, pergaulan bebas dan sebagainya.
Kenyaatan ini sudah cukup untuk menjadi alasan guna membenahi atau memperbaiki sistem
pendidikan nasional yang saat ini sedang terpuruk. Penanaman karakter yang baik dalam diri
peserta didik perlu dilakukan secara serius dan terus-menerus melalui suatu program yang
terencana. Upaya tersebut dalam konteks lembaga pendidikan tidak semata-mata menjadi tugas
guru pendidikan Agama Islam (PAI) saja tetapi menjadi tugas dan tanggung jawab bersama,
termasuk guru Matematika.
Matematika sebagai bagian dari kurikulum pendidikan, diharapkan menjadi sarana bagi
pencapaian tujuan pendidikan yang telah ditetapkan yakni adanya perubahan sikap dan tingkah
laku anak didik yang mencangkup didalamnya terbentuk pribadi yang berkarakter seeprti
komitmen, jujur, kerjasama, kreatif, sopan santun, sikap ilmiah, sikap toleran, demokratis,
disamping kemampuan berfikir matematis yang berpijak pada pemikiran yang logis dan sistematis.
Pembelajaran matematika selama ini didominasi oleh pengenalan rumus rumus serta konsep-
konsep secara verbal, tanpa ada perhatian yang cukup terhadap pemahaman siswa. Selain itu,
proses belajar mengajar hampir selalu berlangsung dengan metode ceramah, dengan guru menjadi
pusat dari seluruh kegiatan di kelas. Siswa mendengarkan, meniru, atau mencontoh dengan persis
sama cara yang diberikan guru tanpa. Inisiatif. Siswa tidak didorong untuk mengoptimalkan potensi
dirinya, mengembangkan penalaran maupun kreativitasnya.
Pembelajaran matematika juga seolah-olah dianggap lepas untuk mengembangkan
kepribadian siswa. Pembelajaran matematika hanya dianggap menekankan kemmapuan kognitif
saja, padahal pengembangan kepribadian sebagai bagian dari kecakapan hidup merupakan tugas
semua mata pelajaran di sekolah. Menghadapi kondisi ini pembelajaran matematika harus merubah
citra dari pembelajaran yang mekanistik menjadi humanistic yang berkarakter. Dengan demikian
pembelajaran matematika diharapkan tidak hanya mampu mengantarkan siswa pada keberhasilan
belajar matematika yang diwujudkan dalam bentuk prestasi, tetapi juga adanya perubahan sikap
dan karakter.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang peneliti lakukan di SMA kota Sungai
Penuh, diperoleh informasi bahwa kesadaran akan pentingnya nilai-nilai kehidupan masih sangat
kurang di kalangan siswa. Hal itu terlihat ketika jam masuk kelas masih banyak siswa yang telat
masuk, masih banyak siswa yang tidak mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru,
masih adanya budaya mencontek dan berbuat curang saat ujian, ketika jam istirahat banyak siswa
yang membuang sampah sembarangan, dan masih banyak siswa yang tidak menaati peraturan dan
tidak disiplin terhadap peraturan yang dibuat oleh sekolah. Ketidakdispilinan siswa ini berdampak
pada hasil belajar yang diperoleh oleh siswa dan mengakibatkan hasil belajar siswa menjadi sangat
rendah.
Untuk mengatasi masalah di atas guru matematika dituntut tidak hanya dapat menstransfer
ilmu pengetahuan saja kepada peserta didik, namun juga dapat membentuk dan mengembangkan
karakter siswa dalam proses pembelajaran matematika. Untuk dapat menumbuhkan dan
mengembangkan karakter siswa dibutuhkan suatu model pembelajaran yang dapat memunculkan
indikator pengembangan karakter dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran yang dapat
memunculkan indikator pengembangan karakter adalah model pembelajaran kooperatif dan model

Available online at Journal homepage: [Link]/[Link]/edumatika


Email: edumatika@[Link]
9
©Edumatika Jurnal Riset Pendidikan Matematika e-ISSN 2620-8911
Volume 1, Nomor 1, Mei 2018 p-ISSN 2620-8903

pembelajaran kooperatif yang dirasa mampu untuk mengembangkan karakter siswa adalah model
pembelajaran Think - Pairs – Share. Langkah-langkah yang ada pada model pembelajaran Think-
Pairs-Share diharapkan mampu meningkatkan rasa tanggung jawab, disiplin dan jujur dalam diri
siswa. Penerapan model ini diharapkan mampu mengembangkan karakter siswa secara bertahap.
Oleh sebab itu peneliti merasa tertarik untuk meneliti dan memberi judul penelitian ini “
Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pairs-Share Dalam Pembelajaran
Matematika Terhadap Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis dan Pengembangan Karakter
Siswa SMA Kota Sungai Penuh.”
Proses pembelajaran merupakan satu rangkaian peristiwa yang kompleks, dimana ada
hubungan timbal balik antara siswa dan guru. Dalam proses pembelajaran diharapkan timbul
perubahan tingkah laku pada diri siswa. Perubahan tingkah laku dapat mencangkup pengetahuan,
keterampilan maupun nilai sikap siswa. Menurut Gagne dalam Ngalim Purwanto (1990:84)
menyatakan bahwa belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan
mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya berubah dari waktu sebelum ia
mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi itu. Menurut Syaiful Bahri Djamarah
& Azwan Zain (1995:38) belajar pada hakikatnya adalah perubahan yang terjadi pada diri
seseorang setelah berakhirnya melakukan aktifitas belajar. Hamalik menyatakan bahwa belajar
adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman (learning is defined as the
modification or strethening of behavior through experiencing).
Hilgard & Bower mengemukakan bahwa belajar berhubungan dengan perubahan tingkah
laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-
ulang dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respon
pembawaan, kematangan atau keadaan-keadaan sesaat seorang. (Pupuh Fathurrohman, 2007:5)
Menurut Agus Suprijono (2009:4) belajar adalah proses sistemik yang dinamis, konstruktif,
dan organik, belajar merupakan kesatuan fungsional dari berbagai komponen belajar. Sedangkan
menurut Salmeto (2010:2) belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil
dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam pengertian ini
mengarahkan kita pada satu pemahaman bahwa Belajar adalah proses sistemik yang dinamis,
konstruktif, dan organik, belajar merupakan kesatuan fungsional dari berbagai komponen belajar.
Belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan
lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Selanjutnya Oemar Hamalik (2008:36)
menyatakan bahwa belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman.
(learning is defined as the modification or stengthening of behavior through experiencing).
Berdasarkan pengertian belajar di atas, maka hakikatnya belajar menunjuk ke perubahan
tingkah laku si subjek dalam situasi tertentu berkat pengalamannya yang berulang-ulang dan
perubahan tingkah laku tersebut tak dapat dijelaskan atas dasar kecenderungan-kecenderungan
respons bawaan. Belajar merupakan suatu proses dan kegiatan bukan suatu hasil atau tujuan.
Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas daripada itu, yakni mengalami. Dalam
proses pembelajaran matematika guru dapat mengajar siswa dengan cara melakukan aktifitas pada
siswa seperti melatih siswa untuk mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan dalam
matematika, dan agar bisa tercipta suasana belajar yang menyenangkan dan memuaskan siswa.
Matematika sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan yang banyak mendasari
perkembangan ilmu pengetahuan lain memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Oleh
karena itu, matematika dimasukkan dalam kurikulum sekolah. Senada dengan hal tersebut, Erman
Suherman (2003:55) menyatakan bahwa matematika sebagai ilmu dasar yang terus berkembang
baik materi maupun kegunaannya. Sehingga dalam pembelajaran disekolah harus memperhatikan
perkembangan-perkembangannya, baik dimasa lalu, masa sekarang maupun kemungkinan-
kemungkinan untuk masa depan. Jadi alasan perlunya matematika diajarkan disekolah adalah
karena matematika sebagai salah satu ilmu dasar yang mempunyai arti penting dalam kehidupan.
Tujuan pembelajaran matematika di sekolah adalah agar: (1) Mempersiapkan siswa agar sanggup
menghadapi perubahan keadaan di dalam kehidupan yang selalu berkembang, melalui latihan
bertindak atas dasar pemikiran secara logis, rasional, kritis, cermat, jujur, efektif dan efisien; (2)
Mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika dan pola pikir matematika dalam

Available online at Journal homepage: [Link]/[Link]/edumatika


Email: edumatika@[Link]
10
©Edumatika Jurnal Riset Pendidikan Matematika e-ISSN 2620-8911
Volume 1, Nomor 1, Mei 2018 p-ISSN 2620-8903

kehidupan sehari-hari dan dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan; (3) Siswa memiliki
kemampuan yang dapat dialihgunakan melalui kegiatan matematika; (4) Siswa memiliki
pengetahuan matematika sebagai bekal untuk melanjutkan kependidikan menengah; (5) Siswa
memiliki keterampilan matematika sebagai peningkatkan dan perluasan dari matematika sekolah
dasar untuk dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari; (6) Siswa memiliki pandangan yang
cukup luas dan memiliki sikap logis, kritis, cermat dan disiplin serta menghargai kegunaan
matematika (Erman Suherman, 2003:58-59)
Dari uraian di atas, jelas bahwa matematika sangat penting untuk dipelajari. Kebanyakan
siswa mengalami kesulitan dalam belajar matematika karena matematika memiliki objek yang
abstrak. Untuk lebih memudahkan siswa belajar matematika, guru hendaknya memilih strategi
yang tepat untuk menyajikan materi dalam pembelajaran.
Model pembelajaran kooperatif tipe TPS adalah merupakan jenis pembelajaran kooperatif
yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Model ini pertama kali dikembangkan
oleh Frank Lymann dan koleganya di universitas Maryland. Arends (dalam Trianto, 2009:61)
menyatakan bahwa TPS merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola
diskusi kelas, dengan asumsi bahwa semua resitasi atau diskusi membutuhkan pengaturan untuk
mengendalikan kelas secara keseluruhan, dan prosedur yang digunakan dalam pembelajaran TPS
dapat memberi siswa lebih banyak waktu berpikir, untuk merespon dan saling membantu. Pada
model pembelajaran ini, guru berperan penting untuk membimbing siswa melakukan diskusi,
sehingga tercipta suasana belajar yang aktif, kreatif, dan efektif. Model pembelajaran ini
dikembangkan untuk meningkatkan partisipasi siswa di dalam kelas. Dalam penerapannya di kelas,
model pembelajaran TPS ini melibatkan tiga langkah, seperti yang dikemukakan oleh Lyman dan
kawan-kawan dalam Nurhadi (2004: 67) yang menyatakan bahwa langkah-langkah pembelajaran
TPS adalah berfikir (thinking), berpasangan (pairing), dan berbagi (sharing).
1. Langkah 1, Berfikir (Thingking).
Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang terkait dengan pelajaran, dan siswa diberi waktu
beberapa menit untuk berfikir sendiri mengenai jawaban atau masalah tersebut. Ketika siswa
diberikan masalah, siswa akan berusaha secara individu untuk memikirkan solusi atas masalah
yang diberikan. Pada tahap ini diharapkan siswa akan mampu memecahkan masalah yang
diberikan, sehingga kemampuan pemecahan masalah akan terasah.
2. Langkah 2, Berpasangan (Pairing).
Guru meminta siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan apa yang telah dipikirkan.
Interaksi selama periode ini dapat menghasilkan jawaban bersama jika suatu pertanyaan telah
diajukan atau penyampaian bersama jika suatu isu khusus telah diidentifikasi. Setelah siswa
diberikan kesempatan secara individu, siswa selanjutnya diminta untuk berpasangan saling berbagi
ide untuk solusi terhadap masalah yang diberikan. pada tahap ini diharapkan siswa mampu
mengkomunikasikan atau menyampaikan sesuatu yang diketahui baik berupa konsep, rumus atau
strategi penyelesaian masalah.
3. Langkah 3, Berbagi (Sharing).
Guru meminta pasangan-pasangan untuk berbagi atau bekerja sama mengenai apa yang telah
mereka bahas. Pada langkah ini. Akan efektif jika guru berkeliling kelas, sehingga seperempat atau
separo dari pasangan-pasangan tersebut memperoleh kesempatan melapor. Pada tahap ini
diharapkan siswa dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan komunikasi matematis
mereka.
Berdasarkan langkah-langkah yang telah dikemukakan di atas, maka langkah-langkah
penerapan model TPS dalam proses pembelajaran pada penelitian ini adalah sebagai berikut: (a)
Siswa dibagi dalam kelompok yang terdiri dari dua orang (berpasangan) pembentukan kelompok
didasarkan pada kemampuan akademik. Ini dilakukan hamya pada pertemuan pertama saja dan
untuk selanjutnya siswa duduk berdasarkan pasangannya; (b) Guru menyampaikan informasi
mengenai tujuan pembelajaran; (c) Guru membagikan LKS; (d) Siswa mengerjakan LKS dengan
model TPS; (e) Guru mengambil secara acak kelompok belajar untuk menyampaikan hasil diskusi
mereka; (f) Guru memberikan penghargaan berupa nilai dan pujian; (g) Guru menutup pelajaran

Available online at Journal homepage: [Link]/[Link]/edumatika


Email: edumatika@[Link]
11
©Edumatika Jurnal Riset Pendidikan Matematika e-ISSN 2620-8911
Volume 1, Nomor 1, Mei 2018 p-ISSN 2620-8903

Penerapan model pembelajaran TPS diharapkan dapat mengembangkan keterampilan


berfikir dan menjawab dalam komunikasi antara satu dengan yang lain, serta bekerja saling
membantu dalam kelompok kecil. Hal ini sesuai dengan pengertian TPS sendiri sebagaimana yang
dikemukakan oleh Lie (2003: 57) menyatakan bahwa TPS adalah pembelajaran yang memberi
kesempatan kepada siswa untuk bekerja sendiri dan bekerjasama dengan orang lain. Dalam hal ini
guru sangat berperan penting dalam membimbing siswa melakukan diskusi, sehingga tercipta
suasana belajar yang lebih hidup, aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.
Pembelajaran kooperatif tipe TPS merupakan tipe yang sederhana dengan banyak
keuntungan karena dapat mengoptimalkan partisipasi siswa untuk mengeluarkan pendapatnya dan
meningkatkan pengetahuan siswa. selain itu tipe ini memberikan kesempatan pada siswa untuk
berfikir, yaitu bekerja sendiri sebelum bekerjasama dengan kelompoknya dan berbagi ide yaitu
setiap siswa saling bertukar ide atau informasi yang mereka tahu tentang masalah yang diberikan
untuk memperoleh kesepakatan dari penyelesaian soal tersebut. TPS membantu para siswa untuk
mengembangkan pemahaman konsep dalam materi pelajaran, mengembangkan kemampuan untuk
berbagi informasi dan menarik kesimpulann, serta mengembangkan kemampuan untuk
mempertimbangkan nilai-nilai dari suatu materi pelajaran.
Karakteristik model TPS siswa dibimbing secara mandiri, berpasangan, dan saling berbagi
untuk menyelesaikan permasalahan. Model ini selain diharapkan dapat menjembatani dan
mengarahkan proses belajar mengajar juga mempunyai dampak lain yang sangat bermanfaat bagi
siswa. Beberapa akibat yang dapat ditimbulkan dari model ini adalah siswa dapat berkomunikasi
secara langsung oleh individu lain yang dapat saling memberi informasi dan bertukar pikiran serta
mampu berlatih untuk mempertahankan pendapatnya jika pendapat itu layak untuk dipertahankan.
Selain dapat mengembangkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa, penerapan model
pembelajaran kooperatif tipe TPS diharapkan mampu meningkatkan komunikasi matematis siswa.
Menurut Kramarski dalam (dalam Ahkmad Jazuli, 2002) mengatakan bahwa untuk
mempertinggi kemampuan mengkomunikasikan matematika secara alami adalah dengan memberi
kesempatan belajar kepada siswa dalam kelompok kecil dimana mereka dapat berinteraksi.
Interaksi antar siswa akan mendorong atau memperkuat pemahaman yang mendalam akan konsep-
konsep matematika. Ketika siswa berpikir, merespon, berdiskusi, mengelaborasi, menulis,
membaca, mendengarkan, dan menemukan konsep-konsep matematika, mereka mempunyai
berbagai keuntungan, yaitu berkomunikasi untuk belajar matematika dan belajar untuk
berkomunikasi secara matematik (NCTM, 2000). Kelompok berpasangan ini memungkinkan
semua siswa untuk berinteraksi dengan optimal, mengembangkan semangat kebersamaan,
menumbuhkan minat belajar dan meningkatkan komunikasi yang efektif dalam pembelajaran. Hal
ini diartikan bahwa proses komunikasi yang baik memungkinkan siswa untuk membangun
pengetahuan matematikanya. Model Pembelajaran TPS merupakan model pembelajaran kooperatif
yang beranggotakan dua orang (pasangan), pasangan ini diharapkan mampu berinteraksi dan
mendorong siswa untuk memperkuat pemahamannya yang mendalam mengenai konsep-konsep
matematika.
Model pembelajaran kooperatif tipe TPS dilandasi oleh teori belajar Konstruktivisme yang
menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan menstranformasi informasi kompleks,
mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan- aturan itu
tidak lagi sesuai. Bagi siswa agar benar-benar memahami dan menerapkan pengetahuan, mereka
harus menemukan segala sesuatu untuk dirinya. Teori ini juga menyatakan bahwa agar siswa
benar-benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan, mereka harus bekerja memecahkan,
menemukan segala sesuatu untuk dirinya, berusaha bersusah payah dengan ide-ide (Jamil, 2013:
22). Menurut teori konstruktivisme siswa sebagai pemain dan guru sebagai fasilitator. Guru
mendorong siswa untuk mengembangkan potensi secara optimal, siswa belajar bukanlah menerima
paket-paket konsep yang sudah dikemas oleh guru melainkan siswa sendiri yang mengemasinya.
Bagian terpenting dari teori ini adalah bahwa dalam proses pembelajaran siswalah yang harus aktif
mengembangkan kemampuan mereka, bukan guru atau orang lain.
Pembelajaran kooperatif tipe Think-Pairs-Share memiiki kelbihan dan kelemahan. Adapun
kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe TPS menurut Huda (Dalam Kusmiati, 2011:136)

Available online at Journal homepage: [Link]/[Link]/edumatika


Email: edumatika@[Link]
12
©Edumatika Jurnal Riset Pendidikan Matematika e-ISSN 2620-8911
Volume 1, Nomor 1, Mei 2018 p-ISSN 2620-8903

yaitu 1) TPS memungkinkan siswa untuk merumuskan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan


mengenai materi yang diajarkan karena secara tidak langsung memperoleh contoh pertanyaan yang
diajukan oleh guru, serta memperoleh kesempatan untuk memikirkan materi yang diajarkan, 2)
Siswa akan terlatih menerapkan konsep karena bertukar pendapat dan pemikiran dengan temannya
untuk mendapatkan kesepakatan dalam memecahkan masalah, 3) Siswa lebih aktif dalam
pembelajaran karena menyelesaikan tugasnya dalam kelompok, dimana tiap kelompok hanya
terdiri dari 2 orang, 4) Siswa memperoleh kesempatan untuk mempersentasikan hasil diskusinya
dengan seluruh siswa sehingga ide yang ada menyebar, 5) memungkinkan guru untuk lebih banyak
memantau siswa dalam proses pembelajaran. Sedangkan kelemahan model pembelajaran
kooperatif tipe TPS adalah waktu yang terbatas, sedangkan jumlah kelompok yang terbentuk
banyak.
Menurut Hudoyo pemahaman konsep merupakan salah satu tujuan penting dalam
pembelajaran matematika. Konsep-konsep merupakan pilar-pilar pembangun untuk berfikir yang
lebih tinggi. Dengan mengenal konsep dan struktur yang tercangkup dalam bahan yang sedang
dibicarakan, anak akan memahami materi yang harus dikuasainya itu. Ini menunjukkan bahwa
materi yang mempunyai pola atau struktur tertentu akan lebih mudah dipahami dan diingatnya.
Pemahaman konsep matematis merupakan kompetensi yang ditunjukkan siswa dalam memahami
konsep. Indikator pemahaman konsep menurut Depdiknas adalah: (a) Menyatakan ulang sebagian
konsep; (b) Mengklasifikasikan objek menurut sifat-sifat tertentu sesuai dengan konsepnya; (c)
Memberi contoh dan bukan contoh dari suatu konsep; (d) Menyajikan konsep dalam berbagai
bentuk representasi matematis; (e) Mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup dari suatu
konsep; (f) Menggunakan dan memanfaatkan serta memilih prosedur atau operasi tertentu; (g)
Mengaplikasikan konsep atau logaritma pada pemecahan masalah.
Sementara itu, Karakter diartikan sebagi tabiat, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti
yang membedakan seseorang dengan yang lain. Orang yang berkarakter adalah orang yang
berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, atau berwatak tertentu, dan watak tersebut yang
membedakan dirinya dengan orang lain. Menurut Lickona, karakter mulia (good character)
meliputi pengetahuan tentang kebaikan, lalu menimbulkan komitmen (niat) terhadap kebaikan, dan
akhirnya benar-benar melakukan kebaikan (Suyadi, 2012:5) Dengan kata lain, karakter mengacu
kepada serangkaian pengetahuan (cognitives), sikap (attitides), dan motivasi (motivations), serta
perilaku (behaviors) dan keterampilan (skills).
Karakter menurut Pusat Kurikulum (2010) adalah watak yang terbentuk dari nilai, moral,
dan norma yang mendasari cara pandang, berfikir, sikap, dan cara bertindak seseorang serta yang
membedakan dirinya dari orang lainnya. Karakter merupakan kunci keberhasilan individu. Hal ini
dibuktikan dari beberapa studi yang menunjukkan bahwa keberhasilan seseorang ditentukan oleh
kualitas karakternya sebesar 80% dan hanya 20% ditentukan oleh kemampuan akademiknya.
Tidaklah terlalu berlebihan jika dikatakan karakter bangsa terwujud dari karakter seseorang yang
menjadi anggota masyarakat bangsa tersebut. Soejadi (2009) menjelaskan bahwa membangun
pendidikan karakter bangsa merupakan strategi, pendekatan, metode, dan teknik dengan menyadari
potensi Illahi dalam diri generasi berkarakter untuk mencapai pribadi yang sadar akan nilai
kehidupan bersama, sadar akan kelebihan dan kekurangan diri, berkemampuan, cerdas, mampu
berkebiasaan baik, berfikir dan bertindak positif yang merupakan keanekaragaman elemen suku
bangsa, keluarga, atau kelompok warga atau individu, atau warga bangsa yang merupakan satu
kesatuan. Kenyataan yang terjadi kini, justru sekolah pun abai dengan pembentukan karakter.
Beberapa pakar pendidikan mengatakan bahwa penyebab utama gagalnya dunia pendidikan
membangun manusia yang berkualitas adalah disebabkan terlalu menekankan pendidikan
akademik (kognitif) dan mengecilkan pentingnya pendidikan karakter (afektif, kecerdasan emosi).
Menurut T. Ramli pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan
pendidikan moral dan pendidikan akhlak yang bertujuan membentuk pribadi anak, supaya menjadi
manusia, warga masyarakat dan warga Negara yang baik (Hamdani, 2013:33). Dari pengertian di
atas dapat dipahami bahwa karakter identik dengan akhlak, sehingga karakter merupakan nilai-nilai
perilaku manusia yang universal yang meliputi seluruh aktivitas manusia, baik dalam rangka
berhubungan dengan Tuhannya, dengan dirinya, dengan sesama manusia, maupun dengan

Available online at Journal homepage: [Link]/[Link]/edumatika


Email: edumatika@[Link]
13
©Edumatika Jurnal Riset Pendidikan Matematika e-ISSN 2620-8911
Volume 1, Nomor 1, Mei 2018 p-ISSN 2620-8903

lingkungannya, yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan
berdasarkan norma-norma agama, hokum, tata karma, budaya, dan adat istiadat.
Dalam penelitian ini karakter yang akan diukur adalah karakter jujur, disiplin, dan tanggung
jawab. Adapun indikator sikap jujur adalah 1) tidak menyontek dalam mengerjakan ujian/tugas, 2)
tidak menjadi plagiat (mengambil/menyalin) karya orang lain tanpa menyebutkan sumber, 3)
mengungkap perasaan apa adanya, 4) siswa menyatakan sikap benar atau salah terhadap materi, 5)
siswa berani dan percaya diri menjawab pertanyaan guru, 6) siswa tenang dan paham mengerjakan
tugas dari guru. Sikap disiplin dalam proses pembelajaran dikelas dapat ditunjukkan dengan dating
tepat waktu, mmeperhatikan penjelasan dan pendapat guru maupun teman, dan mengikuti kegiatan
dengan [Link] sikap disiplin adalah, 1) datang tepat waktu, 2) patuh dan tertib terhadap
aturan bersama atau sekolah, 3) mengikuti kaidah berbahasa tulis yang baik dan benar.
Sikap tanggung jawab adalah sikap dan perilaku untuk melaksanakan tugas dan kewajiban
sbagaimana seharusnya dilakukan, baik terhadap diri sendiri, teman, maupun guru. Dalam proses
pembelajaran sikap tangung jawab dapat ditunjukkan dengan acara mengerjakan tugas sesuai
dengan yang ditentukan, berperan aktif dalam kelompok atau berani menanggung resiko atas
perbuatan yang dialkukan. Indikator karakter tanggung jawab adalah, 1) melaksanakan tugas
individu yang baik, 2) menerima resiko dari tindakan yang dilakukan, 3) tidak
menyalahkan/menuduh orang lain tanpa bukti yang akurat, 4) mengembalikan barang yang
dipinjam, 5) mengakui dan meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan, 6) menepati janji, 7)
tidak menyalahkan orang lain untuk kesalahan tindakan kita sendiri, 8) melaksanakan apa yang
pernah dikatakan tanpa disuruh/diminta.

METODE

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode Quasi Experiment (eksperimen


semu) dengan pendekatan kuantitatif. Menurut Arikunto (1998:3) penelitian eksperimen adalah
suatu cara untuk mencari hubungan sebab akibat dari suatu perlakuan. Terdapat dua
kelompok sampel pada penelitian ini yaitu kelompok eksperimen yang melaksanakan pembelajaran
dengan model kooperatif tipe TPS dan kelompok kontrol dengan pembelajaran konvensional.
Penelitian ini menggunakan dua kelas yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Variabel
dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas yaitu penggunaan model pembelajaran
kooperatif tipe TPS dan pembelajaran konvensional, variabel terikat yaitu kemampuan
pemahaman konsep matematis siswa dan pembentukan karakter siswa.
Desain yang digunakan untuk melihat pengaruh penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe TPS terhadap kemampuan pemahaman konsep matematis dan pembentukan
karakter siswa adalah desain Randomized Control Group Only Design.

Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa yang terdaftar di SMA Kota Sungai
Penuh tahun pelajaran 2017/2018.

Tabel 4. Data Populasi Kelas X SMA Kota Sungai Penuh


No Nama Sekolah Kelas Jumlah Siswa
XA 30 orang
XB 30 orang
1 SMA Negeri 1 Kota Sungai Penuh XC 30 orang
XD 30 orang
XE 30 orang
XA 28 orang
XB 26 orang
2 SMA Negeri 2 Kota Sungai Penuh
XC 26 orang
XD 22 orang
XA 16 orang
3 SMA Negeri 3 Kota Sungai Penuh
XB 16 orang

Available online at Journal homepage: [Link]/[Link]/edumatika


Email: edumatika@[Link]
14
©Edumatika Jurnal Riset Pendidikan Matematika e-ISSN 2620-8911
Volume 1, Nomor 1, Mei 2018 p-ISSN 2620-8903

XA 24 orang
XB 24 orang
4 SMA Negeri 4 Kota Sungai Penuh XC 24 orang
XD 24 orang
Jumlah 380 orang
Sumber: Guru Matematika SMA Negeri Kota Sungai Penuh

Untuk menentukan sampel pada penelitian ini digunakan teknik random Sampling. Sampel
yang dipilih haruslah sampel yang representatif sehingga menggambarkan keseluruhan
karakteristik dari satu populasi. Untuk menentukan kelas sampel pada penelitian ini dilakukan
langkah-langkah sebagai berikut.
1. Mengumpulkan nilai hasil tes matematika siswa SMA Kelas X sekota Sungai Penuh tahun
2016/2017.
2. Menguji kesamaan rata-rata dengan malakukan langkah-langkah sebagai berikut:
3. Melakukan uji normalitas untuk tiap kelompok data. Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui
apakah data berdistribusi normal atau tidak dengan menggunakan uji Kolmogorov Smirnov.
Hasil uji normalitas dapat dilihat pada Lampiran II. Berdasarkan uji normalitas terlihat bahwa
nilai Kolmogorov Smirnov yang diperoleh setiap anggota populasi adalah lebih besar dari taraf
nyata α = 0,05. Jadi disimpulkan bahwa anggota populasi berdistribusi normal. Pada tabel 5
dapat dilihat hasil dari output normalitas.
Tabel 5. Uji Normalitas Data Nilai Populasi Siswa SMA Negeri Kota Sungai Penuh
No Nama Sekolah Sig Ket.
1. XA SMAN 1 Sungai Penuh 0,198 Normal
2. XB SMAN 1 Sungai Penuh 0,140 Normal
3. XC SMAN 1 Sungai Penuh 0,145 Normal
4. XD SMAN 1 Sungai Penuh 0,172 Normal
5. XE SMAN 1 Sungai Penuh 0,092 Normal
6. XA SMAN 2 Sungai Penuh 0,082 Normal
7. XB SMAN 2 Sungai Penuh 0,200 Normal
8. XC SMAN 2 Sungai Penuh 0,129 Normal
9. XD SMAN 2 Sungai Penuh 0,116 Normal
10. XA SMAN 3 Sungai Penuh 0,136 Normal
11. XB SMAN 3 Sungai Penuh 0,200 Normal
12. XA SMAN 4 Sungai Penuh 0,200 Normal
13. XB SMAN 4 Sungai Penuh 0,068 Normal
14. XC SMAN 4 Sungai Penuh 0,093 Normal
15. XD SMAN 4 Sungai Penuh 0,200 Normal

4. Melakukan uji homogenitas variansi dengan menggunakan uji Levene untuk mengetahui apakah
populasi mempunyai variansi yang homogen atau tidak. Hasil uji Levene dapat dilihat pada
Lampiran III. Dari hasil uji homogenitas diperoleh nilai signifikansi 0,0636 (lebih besar dari
taraf nyata 0,05). Artinya populasi memiliki variansi yang homogen. Pada tabel 6 dapat dilihat
hasil dari output homogenitas varians.
Tabel 6. Uji Normalitas Data Nilai Populasi Siswa SMA Negeri Kota Sungai Penuh
Levene Statistic df1 df2 Sig.
0.830 14 363 .636
5. Melakukan uji kesamaan rata-rata untuk melihat apakah populasi mempunyai kesamaan rata-
rata atau tidak dengan menggunakan uji ANAVA satu arah. Hasil uji Anava satu arah dapat
dilihat pada Lampiran III. Nilai signifikansi kelompok populasi diperoleh 0,898 (lebih besar
dari taraf nyata 0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa setiap kelas memiliki kesamaan rata-
rata untuk taraf nyata α = 0,05.
Tabel 7. Uji Kesamaan Rata-Rata Nilai Populasi Siswa SMA Negeri Kota Sungai Penuh
Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Between Groups 2469.110 14 176.365 0.556 0.898

Available online at Journal homepage: [Link]/[Link]/edumatika


Email: edumatika@[Link]
15
©Edumatika Jurnal Riset Pendidikan Matematika e-ISSN 2620-8911
Volume 1, Nomor 1, Mei 2018 p-ISSN 2620-8903

Within Groups 115075.070 363 317.011


Total 117544.180 377 -

6. Karena semua kelompok populasi mempunyai kesamaan nilai rata-rata, maka pengambilan
sampel dilakukan dengan teknik Random Sampling yaitu dengan melakukan pengundian
menggunakan gulungan kertas yang berjumlah 15 buah yang berisi nama kelas dan sekolah.
Kemudian dilakukan pengambilan secara acak dengan mengambil 2 potongan kertas sekaligus.
Kelas yang terbuka pertama adalah kelas XA SMA Negeri 2 Sungai Penuh ditetapkan sebagai
kelas eksperimen dan kelas yang terbuka kedua adalah kelas XC SMA Negeri 3 Sungai Penuh
sebagai kelas kontrol.

HASIL PENELITIAN

Setelah dilakukan tes kemampuan pemahaman konsep matematis dan tes pengembangan
karakter siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol, diperoleh data tentang kemampuan
pemahaman konsep matematis dan pengembangan karakter siswa yang menggunakan model
pembelajaran kooperatif tipe Think-Pairs-Share (TPS) dan siswa kelas kontrol yaitu siswa yang
menggunakan metode pembelajaran secara konvensional. Berikut ini adalah deskripsi data hasil tes
kemampuan pemahaman konsep matematis dan pengembangan karakter siswa kelas eksperimen
dan kelas kontrol.

Data Tes Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa

Setelah dilakukan tes akhir diperoleh data tentang kemampuan pemahaman konsep
matematika siswa kelas eksperimen yaitu kelas yang diajarkan menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe Think-Pairs-Share (TPS). Data mengenai nilai rata-rata kemampuan konsep siswa
kelas eksperimen dapat dilihat pada Tabel 15.

Tabel 8. Rata-rata Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa


Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

Rata-rata Skor (Eksperimen) Rata-Rata Skor (Kontrol)


X 16,25 15,38
S 2,17 2,1
S2 4,71 4,41

Berdasarkan data di atas, diketahui bahwa perolehan rata-rata skor pemahaman konsep
matematis siswa pada kelas yang menggunakan pembelajaran kooperatif tipe TPS lebih tinggi
daripada kelas yang menggunakan pembelajaran secara konvensional. Model pembelajaran
kooperatif tipe Think-Pairs-Share (TPS) adalah sebuah model pembelajaran yang membuat siswa
terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Pembelajaran kooperatif tipe TPS memiliki strategi
kerja kelompok yang melibatkan pasangan untuk menyelesaikan masalah atau tugas yang diberikan
oleh guru sehingga dengan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe TPS dapat membantu siswa
memahami konsep karena siswa dapat saling bekerjasama dengan temannya dalam memahami
konsep dalam materi yang dipelajari, sehingga tidak ada siswa yang pasif. Selain itu, siswa juga
dilatih untuk berani mengemukakan pendapat dan berdiskusi dengan pasangannya untuk
memperoleh jawaban yang tepat dengan saling bertukar pikiran maupun pendapat sehingga setiap
permasalahan matematika khususnya dalam pemahaman konsep matematis siswa terlihat lebih
mudah.
Pada pembelajaran konvensional, dalam proses pembelajarannya kurang melibatkan siswa
secara aktif yaitu siswa hanya mendengarkan dan mencatat apa yang dijelaskan oleh guru sehingga
siswa akan mudah jenuh. Pada proses pembelajarannya siswa tidak dituntut untuk menemukan
sendiri konsep- konsep melainkan mendapatkannya dari penjelasan guru dan akibatnya siswa
mudah melupakan konsep-konsep yang telah diberikan.

Available online at Journal homepage: [Link]/[Link]/edumatika


Email: edumatika@[Link]
16
©Edumatika Jurnal Riset Pendidikan Matematika e-ISSN 2620-8911
Volume 1, Nomor 1, Mei 2018 p-ISSN 2620-8903

Data Tes Pengembangan Karakter Siswa

Tes pengembangan karakter siswa dilakukan untuk melihat pengembangan karakter siswa
yang menggunakan model pembelajaran TPS dengan ssiwa yang menggunakan model pembeljaran
konvensional. Karakter yang dilihat disini adalah karakter jujur, disiplin dan tanggung jawab. Data
mengenai Skor rata-rata pengembangan karakter siswa dapat dilihat pada tabel 16.
Tabel 9. Rata-Rata Skor Angket Pengembangan Karakter Siswa

Rata-Rata Skor Angket Rata-Rata Skor Angket


(Eksperimen) (Kontrol)
X 78,2 62,4
S 2,17 4,1
S2 4,71 16,1

Berdasarkan data diatas, terlihat bahwa skor rata-rata angket pengembangan karakter siswa
yang menggunakan model pembelajaran TPS lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang
menggunakan model pembelajaran secara konvensional. Hal itu dikarenakan pada pembelajaran
yang menggunakan model pembelajaran TPS, siswa dilatih untuk bersikap jujur terhadap
pasangannya dalam menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pasangannya, selain itu siswa juga
diajarakan untuk bersikap disiplin dan tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan kepadanya.
Rasa tanggung jawab tersebut terlihat ketika siswa yang pintar dengan penuh rasa tanggung jawab
mengajarkan siswa yang kurang pintar tentang materi yang sedang dibahas. Sedangkan
kedisiplinan siswa tergambar ketika siswa menyelesaikan maslah yang diberikan oleh guru tepat
pada watu yang telah ditentukan.

PEMBAHASAN

Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa pada Kelas Eksperimen

Dari hasil penelitian diperoleh bahwa kemampuan pemahaman konsep siswa yang diajar
dengan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pairs-Share lebih tinggi daripada kemampuan
pemahaman konsep matematis siswa yang diajar dengan model pembelajaran konvensional. Hal itu
dikarenakan model pembelajaran kooperatif tipe TPS mengarahkan siswa terlebih dahulu
melakukan kegiatan berpikir, merefleksikan dan menyusun ide-ide untuk dapat menyelesaikan soal
yang diberikan oleh guru secara individu kemudian baru dilanjutkan dengan berdiskusi dengan
pasangannya.
Pada saat berpasangan siswa akan saling bertukar pendapat atau ide-ide mereka terhadap
masalah yang diberikan. Hasil pengamatan ketika pembelajaran pada kelas eksperimen dengan
menggunakan model Think-Pairs-Share adalah siswa dapat berinteraksi dengan pasangannya
dalam memecahkan masalah. Pada tahap think siswa memikirkan masalah yang diberikan oleh
guru secara individu, terlihat bahwa sebagian siswa ada yang hanya berfikir saja dan sebagian
siswa ada yang mencoba mencari jawaban. Pada tahap ini mengurangi siswa untuk berbicara,
karena siswa sibuk memikirkan jawaban dari masalah yang diberikan oleh guru. Tahap pairs
adalah tahap dimana siswa berpasangan, pada kegiatan ini terlihat siswa mendiskusikan dengan
pasangannya tentang jawaban yang diperoleh pada tahap think. Langkah diskusi yang diterapkan
agar siswa yang pandai dapat membantu temannya yang lemah dalam pembelajaran dan dapat
berbagi dan bekerja sama dengan pasangannya. Siswa merumuskan hasil jawaban dan
mendiskusikan jawaban yang tepat. Tahap share siswa mempresentasikan hasil yang telah
didiskusikan dengan pasangannya, guru menunjuk salah satu pasangan kelompok untuk maju
kedepan kelas mempresentasikan hasil jawaban untuk menyatukan pendapat dan siswa lainnya ikut
mendiskusikan dan menyimpulkan jawaban yang benar.
Kemampuan pemahaman konsep yang diperoleh siswa pada pembelajaran Think-Pairs-
Share membuat siswa dapat memahami masalah, merencanakan penyelesaian, melaksanakan
penyelesaian dan membuat kesimpulan terhadap penyelesaian masalah tersebut. Hal tersebut di atas

Available online at Journal homepage: [Link]/[Link]/edumatika


Email: edumatika@[Link]
17
©Edumatika Jurnal Riset Pendidikan Matematika e-ISSN 2620-8911
Volume 1, Nomor 1, Mei 2018 p-ISSN 2620-8903

senada dengan pendapat Lyman yang mengemukakan bahwa TPS membantu para siswa untuk
mengembangkan pemahaman konsep dalam materi pelajaran, mengembangkan kemampuan untuk
berbagi informasi dan menarik kesimpulann, serta mengembangkan kemampuan untuk
mempertimbangkan nilai-nilai dari suatu materi pelajaran.
Hasil pengamatan ketika pembelajaran pada kelas eksperimen dengan menggunakan model
pembelajaran koopertife tipe Think-Pairs-Share adalah semua siswa aktif dalam pembelajaran dan
siswa tidak merasa bosan dengan pembelajaran karena dalam pembelajaran ini siswa yang kurang
pandai akan dibantu oleh temannya yang lebih pandai sehingga siswa tersebut termotivasi dalam
kegiatan pembelajaran. Selain itu sebelum siswa memulai pembelajaran siswa selalu diingatkan
kembali tentang pelajaran sebelumnya.
Siswa yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran koopertife tipe Think-
Pairs-Share terlebih dahulu sudah diberikan arahan-arahan dalam menjawab masalah yang akan
diberikan. Pembagian pasangan dilakukan secara heterogen, diamna siswa yang pandai akan
dipasangkan dengan siswa yang kurang pandai. Pembagian pasangan pada model pembelajaran
koopertife tipe Think-Pairs-Share didasarkan pada rangking yang diperoleh oleh siswa. Siswa
rangking 1 akan dipasangkan dengan siswa rangking 22, siswa rangking 2 akan dipasangkan
dengan siswa rangking 21 dan begiru seterusnya. Kepada siswa tersebut dan siswa tersebut sudah
terbiasa berinteraksi dengan teman sekelompok yang lebih pintar, sehingga siswa yang kurang
pintar termotivasi dan aktif menyatakan ide-ide dan bertanya tentang apa yang belum diketahuinya.
Diskusi bersama pasangan membuat siswa pintar akan lebih aktif dalam proses pembelajaran.
Siswa yang lebih pintar dapat membantu siswa yang kurang pintar.
Hasil tes kemampuan pemahaman konsep matematis siswa menunjukkan siswa sudah biasa
menyelesaikan soal tes kemampuan pemahaman konsep yang diberikan oleh guru. Siswa sudah
mampu mengklasifikasikan objek menurut sifat-sifat tertentu sesuai dengan konsepnya, dapat
menggunakan dan memanfaatkan serta memilih prosedur atau operasi tertentu, dan dapat
mengaplikasikan konsep ke algoritma pemecahan masalah.

Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa pada Kelas Kontrol

Kemampuan pemahaman konsep matematis siswa yang tidak menggunakan model


pembelajaran koopertaif tipe Think-Pairs-Share jauh berbeda dengan kemampuan pemahaman
konsep siswa yang menggunakan pembelajaran model pembelajaran koopertaif tipe Think-Pairs-
Share. Hal ini dapat dilihat pada hasil tes akhir kelas kontrol, dari tes tersebut diperoleh rata-rata
16,1. Pada kelas kontrol konsep diberikan dan dijelaskan oleh guru secara langsung melalui metode
caramah dan tanya jawab. Setelah informasi diberikan, siswa diberi kesempatan untuk mencatat
dan bertanya dan mengerjakan soal latihan yang ada pada LKS. Hal ini menyebabkan
pembelajaran hanya didominasi oleh guru sehingga kemampuan pemahaman konsep matematis
siswa kurang terasah karena siswa hanya menghafal materi yang diberikan oleh guru. Dalam
pembelajaran secara konvensional ini, terlihat bahwa hanya beberapa orang saja yang mau bertanya
dan memberi tanggapan tentang materi pelajaran. Apabila ditanya atau diminta menyelesaikan
konsep, siswa tidak mampu menjelaskan konsep tersebut dengan bahasanya sendiri.
Pada pembelajaran konvensional penjelasan materi diberikan oleh guru kemudian guru
memberikan contoh soal dan diikuti soal latihan dan pemberian tugas di rumah. Hasil pengamatan
di kelas kontrol adalah masih banyak siswa yang kurang memahami soal tentang kemampuan
pemahaman konsep matematika. Siswa hanya bisa menjawab soal yang mirip dengan contoh soal
yang diberikan oleh guru. Siswa hanya terbiasa menyelesaikan soal secara individu, siswa tidak
dibiasakan untuk bekerja secara berpasangan atau kelompok. Sehingga ketika diberikan tes
kemampuan pemahaman konsep oleh guru, hanya beberapa orang siswa saja yang mampu
menyelesaikannya dengan baik. Siswa yang lainnya terlihat kesulitan dalam menyelesaikan soal
tersebut diakrenakan tidak pernah dicontohkan oleh guru mereka di papan tulis. Sehingga mereka
menyelesaiaknnya terkesan asal-asalan dan hal ini tentunya menyebabkan kemampuan
pemahamann konsep matematika siswa kelas kontrol menjadi rendah jika dibandingakn dengan
kelas ekspeimen.

Available online at Journal homepage: [Link]/[Link]/edumatika


Email: edumatika@[Link]
18
©Edumatika Jurnal Riset Pendidikan Matematika e-ISSN 2620-8911
Volume 1, Nomor 1, Mei 2018 p-ISSN 2620-8903

Perbedaan Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa

Perbedaan yang terjadi antara siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol dalam menjawab
soal dikarenakan pembelajaran yang diterapkan di kelas. jika pada kelas eksperimen diterapkan
model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pairs Share, pembelajaran yang dilakukan pada kelas
kontrol terlalu terpusat pada guru, guru mendominasi pembelajaran sehingga sedikit memberikan
kesempatan kepada siswa untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Guru menjelaskan
materi kemudian memberikan contoh soal dan penyelesaiannya. Proses pembelajaran seperti ini
akan membiasakan siswa untuk menghafal konsep yang diberikan oleh guru dan tidak melekat
dengan baik dalam ingatan siswa. Jika dihapakan pada soal yang sedikit berbeda siswa akan
mengalami kesulitan dan akan menganggap bahwa mereka belum pernah mempelajarinya.
Berdasarkan skor tes kemampuan pemahaman konsep matematis siswa diketahui bahwa
rata-rata skor kemampuan pemecahahan masalah matematis siswa kelas eksperimen16,25 dan rata-
rata skor tes akhir siswa kelas kontrol adalah 15,83. Dari data tersebut dapat dikatakan bahwa rata-
rata skor kemampuan pemahaman konsep matematis siswa kelas ekperimen pada materi fungsi
lebih tinggi dari pada kelas kontrol. Hal terjadi karena semua siswa kelas ekperimen sudah terbiasa
dengan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pairs-Share dimana langkah-kangkah TPS itu
sendiri terdapat pada indikator kemampuan pemahaman konsep matematis sehingga kemampuan
siswa untuk memahami konsep matematis akan semakin terlatih.
Sedangkan pada kelas kontrol siswa hanya dibiasakan menerima apa yang diberikan oleh
guru. Seharusnya siswa tidak dilatih untuk menerima apa yang diberikan oleh gurunya semata,
namun siswa seharusnya diajak untuk dapat memecahkan, menemukan dengan saling berbagi ide-
ide dengan temannya agar kemampuan pemahaman konsepnya dapat terasah dengan baik. Hal ini
sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Jamil yang menyatakan bahwa agar siswa benar-benar
memahami dan dapat menerapkan pengetahuan, mereka harus bekerja memecahkan, menemukan
segala sesuatu untuk dirinya, berusaha bersusah payah dengan ide-ide.
Hasil tes kemampuan pemahaman konsep matematis siswa pada kelas kontrol kurang bisa
menjawab soal tes kemampuan pemhaman konsep matematis yang diberikan oleh guru. Hanya
beberapa orang saja yang bisa mengerjakannya. Siswa yang lainnya merasa kesulitan dalam
menyelesaiakn soal yang diberikan oleh guru, hal itu dikarenakan soal yang diberikan tidak pernah
dicontohkan oleh guru mereka, sehingga siswa tersebut hanya diam dan mengaharap jawaban yang
diberikan tema.

Pengembangan Karakter Siswa yang Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe


Think-Pairs-Share

Pendidikan harus dapat menghasilkan insan-insan yang memiliki karakter mulia, di samping
memiliki kemampuan akademik dan keterampilan yang memadai. Untuk itulah maka segala usaha
untuk mengintegrasikan pendidikan karakter dalam setiap proses pembelajaran dan kegiatan
belajar-mengajar menjadi sangat penting untuk mewujudkan dan membentuk manusia yang
berkarakter. Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari
hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk
cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Kebajikan terdiri atas sejumlah nilai, moral, dan
norma, seperti jujur, berani bertindak, dapat dipercaya, dan hormat kepada orang lain.
Model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share merupakan model pembelajaran yang
dikembangkan oleh Frank Lyman dari Univeristas Maryland. Pada saat guru mempresentasikan
sebuah pelajaran di kelas, siswa duduk berpasangan didalam tim mereka. Tiga tahapan dalam
model pembelajaran ini adalah: (1) Think. Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa, dan pada
tahap ini siswa diminta untuk memikirkan sendiri atas jawaban pertanyaan itu. (2) Pair. Setelah
siswa diminta memikirkan sendiri atas jawaban dari pertanyaan yang diberikan oleh guru, pada
tahap ini siswa berpasangan dengan pasangan diskusinya untuk mencapai konsesus atas jawaban
tersebut. (3) Share. Setelah berpasangan dalam tahap ini guru meminta siswa untuk berbagi
jawaban yang mereka sepakati itu kepada semua siswa di kelas. Sesuai dengan tahapan-tahapan

Available online at Journal homepage: [Link]/[Link]/edumatika


Email: edumatika@[Link]
19
©Edumatika Jurnal Riset Pendidikan Matematika e-ISSN 2620-8911
Volume 1, Nomor 1, Mei 2018 p-ISSN 2620-8903

dan karakterisktik dari model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share diatas, maka model
pembelajaran ini dapat melatihkan beberapa karakter. Pada tahap Think dan Pair karakter jujur dan
tanggung jawab dapat dimunculkan melalui kejujuran siswa dalam mengerjakan soal yang
diberikan pada setiap tahapan dan tanggung jawab dalam menyelesaikan semua soal yang
diberikan. Pada tahap Share karakter yang muncul adalah tanggung jawab atas hasil diskusi yang
dilakukan dengan teman pasangannya. Sedangkan karakter disiplin bisa dilihat pada saat ketepatan
waktu dalam masuk kelas dan dalam tepat waktu dalam pengumpulan tugas. Oleh karena itu,
melalui model pembelajaran kooperatif Think Pair Share dapat menanamkan karakter-karakter
yang baik dalam diri siswa masing-masing, serta dapat menumbuhkan kesadaran pribadi siswa
untuk semangat belajar sehingga dengan demikian dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Pengembangan Karakter Siswa yang Menggunakan Metode Konvensional

Pada kelas yang tidak menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pairs-Share
(TPS), suasana kelas terlihat monoton dan kaku. Guru menggunakan metode ceramah dalam
menyampaikan materi pelajaran. Aktifitas siswa hanya sebatas mendengarkan materi yang
disampaikan oleh gurunya. Kemudian siswa diminta oleh guru untuk mencatat materi yang telah
dijelaskan oleh guru. Sesekali guru melemparkan pertanyaan kepada siswa berhubungan dengan
materi yang telah disampaikan. Aktifitas pada kelas kontrol jauh dari kata aktif, hal itu dikarenakan
guru tidak melakukan variasi dalam pembelajaran. Aktifitas siswa hanya mendengarkan, mencatat,
dan mengerjakan latihan yang diberikan oleh guru.
Selama proses pembelajaran terlihat bahwa ada beberapa siswa yang ketika guru meminta
untuk mencatat, mereka tidak mencatat materi yang dijelaskan oleh guru di buku catatan mereka,
mereka juga tidak mendengarkan penjelasan guru secara serius, bahkan ketika guru meminta
mereka mengerjakan latihan mereka lebih membebankan latihan itu kepada yang pintar saja, dan
mereka lebih suka mencontek pekerjaan temannya daripada berusaha sendiri untuk menyelesaikan
soal tersebut. Penerapan model pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah, pada
kenyataannya tidak mampu mengembangkan karakter siswa terutama karakter jujur, disiplin dan
tanggung jawab. Hal ini terlihat ketika guru memberikan tugas atau pekerjaan rumah kepada siswa,
masih banyak siswa yang tidak mengumpulkan atau mengumpulkannya tidak tepat pada waktunya.
Pekerjaan rumah idak lagi dikerjakan dirumah tapi malah dikerjkaan disekolah sebelum jam
pelajaran dimulai dengan mencontek pada teman yang bisa. Hal ini menunjukkan bahwa tidak
adanya rasa tanggung jawab siswa terhadap tugas yang diberikan oleh guru. Ketidak jujuran siswa
dalam prose pembelajaran juga terlihat ketika mereka ditanya kenapa tidak mengerjakan tugas,
maka siswa lebih cenderung menjawab bahwa mereka lupa.
Metode ceramah yang digunakan oleh guru tidak mampu mengembangkan karakter siswa
secara keseluruhan. Hal itu dikarenakan model pembelajaran secara ceramah tidak melibatkan
siswa secara aktif , sehingga menyebabkan kurangnya rasa optimisme dalam diri siswa. Metode
belajar secara ceramah tidak mampu menumbuhkan dan karakter jujur, disiplin, dan tanggung
jawab kepada siswa. Ketika dilakukan penyebaran angket kepada siswa dengan 15 butir
pernyataan, dengan skor yang telah ditentukan, diperoleh hasil bahwa skor rata-rata pengembangan
karakter siswa yang menggunakan model pembelajaran dengan metode ceramah lebih rendah
dibandingkan dengan skor rata-rata siswa kelas yang menggunakan model pembelajaran kooperatif
tipe TPS.

Perbedaan Pengembangan Karakter Siswa

Perbedaan karakter antara siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe
Think-Pairs-Share dengan siswa yang menggunakan metode ceramah dikarenakan adanya model
pembelajaran yang diterapkan. Kelas yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe Think-Pairs-Share terlihat begitu aktif dan semangat dalam belajar. Langkah-
langkah dalam model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pairs-Share dapat menumbuhkan
karakter jujur, disipilin, dan tanggung jawab terhadap siswa.

Available online at Journal homepage: [Link]/[Link]/edumatika


Email: edumatika@[Link]
20
©Edumatika Jurnal Riset Pendidikan Matematika e-ISSN 2620-8911
Volume 1, Nomor 1, Mei 2018 p-ISSN 2620-8903

Pembelajaran pada kelas yang tidak menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe
Think-Pairs-Share dilakukan dengan menggunakan metode ceramah, guru memegang kendali kelas
dan menjelaskan materi pelajaran secara satu arah, dimana siswa diposisikan sebagai objek yang
akan diberi informasi-informasi. Pembelajaran terkesan monoton dan kaku, siswa tidak aktif dalam
pembelajaran. Kegiatan selama proses pembelajaran yaitu guru menjelaskan dan mencatat materi
pada papan tulis, kemudian siswa mendengarkan penjelasan guru dan mencatat materi tersebut di
buku catatan mereka, selanjutkan kegiatan pembelajaran dilanjutkan dengan guru memberikan
latihan kepada siswa. Latihan yang diberikan oleh guru hanya bisa dikerjakan oleh siswa yang
pintar saja, sedangkan siswa yang lain terlihat hanya berharap contekan dari siswa yang pandai.
Kurang semangatnya siswa dalam proses pembelajaran ditambah lagi tidak ada keinginan dari
siswa untuk bisa dan dapat mengerjakan soal latihan ynag diberikan oleh guru merupakan salah
satu indikator kurangnya pengembangan karakter jujur, dispilin, dan tanggung jawab dalam diri
siswa. Dari hasil analisa angket yang peneliti sebarkan kepada kedua kelas, diperoleh hasil bahwa
terdapat perbedaan pengembangan karakter antara siswa yang menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe Think-Pairs-Share dengan siswa yang tidak menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe Think-Pairs-Share .
Perbedaan pengembangan karakter antara siswa yang menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe Think-Pairs-Share dengan kelas yang tidak menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe Think-Pairs-Share disebabkan oleh model pembelajaran yang digunakan oleh guru.
model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pairs-Share dapat meningkatkan rasa optimisme,
percaya diri, rasa ingin tahu, dan semangat yang tinggi pada siswa dalam menggali pengetahuan
mereka sehingga secara tidak langsung dapat membentuk karakter jujur, disiplin, dan tanggung
jawab dalam diri siswa. Sedangkan pada kelas yang tidak menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe Think-Pairs-Share, selama proses pembelajaran terlihat bawa siswa tidak memiliki
rasa percaya diri, optimisme dan semangat yang tinggi untuk mencari tahu dan menggali informasi-
informasi yang belum diketahuinya. Semangat yang rendah dan rasa ingin tahu yang kurang
merupakan salah satu indikator kurangnya pengembangan karakter siswa.

KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa:


1. Kemampuan pemahaman konsep matematis siswa yang menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe Think-Pairs-Share lebih baik dibandingkan dengan kemampuan pemahaman
konsep matematis siswa yang tidak menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think-
Pairs-Share dengan rata-rata 20,9 . Hal itu dapat dilihat dari hasil penelitian, dari perhitungan
statistik t diperoleh t hitung = 2, 7 dan t tabel =1,53 sehingga t hitung > t tabel.
2. Kemampuan pemahaman konsep matematis siswa yang tidak menggunakan model
pembelajaran kooperatif tipe Think-Pairs-Share lebih rendah dibandingkan dengan kemampuan
pemahaman konsep matematis siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe
Think-Pairs-Share dengan rata-rata 16,75 . Hal itu dapat dilihat dari hasil penelitian, dari
perhitungan statistik diperoleh thitung = 2, 7 dan t tabel =1,53 sehingga t hitung > t tabel.
3. Terdapat perbedaan kemampuan pemahaman konsep matematika siswa antara yanng
menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pairs-Share dengan siswa yang tidak
menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pairs-Share.
4. Karakter siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pairs-Share lebih
baik dibandingkan dengan karakter siswa yang tidak menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe Think-Pairs-Share dengan rata-rata 65,2 . Hal itu dapat dilihat dari hasil
penelitian, dari perhitungan statistik t diperoleh t hitung = 2,64 dan t tabel =1, 1,676 Sehingga t hitung
> t tabel,
5. Karakter siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pairs-Share lebih
baik dibandingkan dengan karakter siswa yang tidak menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe Think-Pairs-Share dengan rata-rata 62,4 . Hal itu dapat dilihat dari hasil

Available online at Journal homepage: [Link]/[Link]/edumatika


Email: edumatika@[Link]
21
©Edumatika Jurnal Riset Pendidikan Matematika e-ISSN 2620-8911
Volume 1, Nomor 1, Mei 2018 p-ISSN 2620-8903

penelitian, dari perhitungan statistik t diperoleh thitung = 2,64 dan ttabel =1, 1,676 Sehingga thitung
> ttabel,
6. Terdapat perbedaan karakter anatara siswa yang menggunakan model pembelajaran tipe Think-
Pairs-Share dengan siswa yang tidak menggunakan model pembelajaran tipe Think-Pairs-
Share.

DAFTAR RUJUKAN

Arikunto, Suharsimi. 2009. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: bumi Aksara


Asma, Nur. 2012. Model Pembelajaran Kooperatif. Padang: UNP Press.
Erman, Suherman, dkk. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: JICA
universitas Pendidikan Indonesia.
E. Slavin, Robert. 2005. Cooperative Learning Teori Riset dan Praktik. Bandung: Nusa Media
Fathurrohman, Pupuh.2007. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: PT Refika Aditama
Hamid, Hamdani.2013. Pendidikan Karakter Islam. Bandung: Pustaka Setia
Isjoni. 2011. Cooperatif Learning. Pekan Baru: Alfabeta
Kusmiati. 2011. Pembelajaran Kooperatif Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa
kelas II SDN Rahayu Tahun Ajaran 2012/2013. Universitas Sebelas Maret.
Lie, Anita. 2003. Cooperatif learning mempraktekkan cooperatif Learning di Ruang-Ruang Kelas.
Jakarta: Grasindo.
Nurhadi, dkk. 2004. Pembelajaran konstekstual (contekstual teaching and learning/CTL) dan
penerapannya dalam KBK. Malang: Universitas Negeri Malang.
Oemar Hamalik.2008. Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung: PT Bumi Aksara
Prawironegoro, Pratiknyo. 1985. Evaluasi Hasil Belajar Khusus Analisis Soal Untuk Bidang Studi
Matematika. Jakarata: Fortuna
Purwanto, Ngalim.1990. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Rusman. 2010. Model-Model Pembelajran Mengembangkan Profesional Guru. Jakarta: Raja
Grafindo Persada.
Sharan, Shlomo. 2009. Cooperatif Learning. Yogyakarta: Imperium
Slameto.2010. Belajar & Faktor-Faktor yang Mempengaruhi. Jakarta: Rineka Cipta.
Suprijono, agus. 2009. Cooperatif Learning Teori& Aplikasi Paikem. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Suryabrata, Sumadi. 1983. Metodologi Penelitian. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Suyadi. 2012. Strategi Pembelajaran Pendidikan Berkarakter. Yogyakarta: [Link] Rosdakarya
Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif. Jakarta: Prenada Media Group.

Available online at Journal homepage: [Link]/[Link]/edumatika


Email: edumatika@[Link]

You might also like