Meningkatkan Partisipasi Belajar Daring
Meningkatkan Partisipasi Belajar Daring
Peningkatan Partisipasi Belajar dan Hasil Belajar Peserta Didik Teknik Audio Video di
Masa Pandemi Covid-19 dengan WhatsApp Group
ABSTRACT
VHS was closed as a result of the COVID-19 pandemic. Online learning is an approach that must be applied
to these conditions. Various challenges and obstacles in online learning affect learning outcomes. The findings
when evaluating online learning at the beginning of the period were the decrease in learning participation and
the percentage of completeness the minimum criteria of mastery learning were the findings obtained. This article
describes how to increase participation and the percentage of the minimum criteria in online learning through the
use of WhatsApp Group (WAG) and Google Classroom (GC). The stages of Classroom Action Research (CAR)
are planning, action, observation and reflection. Group Investigation is a learning model used in research. The
results show that: (1) the application of GI can increase learning participation through the optimization of the
WAG as a discussion forum (topic identification, task planning, and investigation steps) and video collection
(reports and presentations) at an agreed time; (2) the application of GI increases the percentage of students who
complete the KKM through discussion, investigation and presentation steps using WAG as a communication
medium. The dedication and proactive role of the teacher plays an important role in optimizing WA in learning.
The best learning technologies are those that suit learning needs based on the characteristics of students,
technology infrastructure and the learning environment. Management of change is needed to improve learning
technology literacy for the education community.
Keywords: Action Research, Online Learning, Participation, Group Investigation, WhatsApps Group
ABSTRAK
Penutupan SMK merupakan dampak dari adanya pandemi COVID-19. Pembelajaran daring menjadi
pendekatan yang harus diterapkan pada kondisi tersebut. Berbagai tantangan dan kendala pembelajaran daring
mempengaruhi capaian pembelajaran. Temuan saat evaluasi pembelajaran daring di awal periode adalah
menurunnya partisipasi belajar dan prosentase ketuntasan KKM peserta didik menjadi temuan yang diperoleh.
Artikel ini memaparkan mengenai cara meningkatkan partisipasi dan prosentase ketuntasan tersebut pada
pembelajaran daring melalui pemanfaatan WhatsApp Group (WAG) dan Google Classroom (GC). Tahapan
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Group Investigation
menjadi model pembelajaran yang digunakan dalam penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1)
penerapan GI dapat meningkatkan partisipasi belajar melalui optimalisasi WAG sebagai forum diskusi (langkah
identifikasi topik, perencanaan tugas, dan investigasi) dan pengumpulan video (laporan dan presentasi) pada waktu
yang disepakati; (2) penerapan GI meningkatkan prosentase peserta didik yang tuntas KKM melalui langkah
langkah diskusi, investigasi dan presentasi menggunakan WAG sebagai media komunikasi. Dedikasi dan peran
proaktif pengajar memegang peranan penting dalam pengoptimalan WA pada pembelajaran. Teknologi
pembelajaran terbaik adalah yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran berdasarkan karakteristik peserta didik,
infrastruktur teknologi dan lingkungan pembelajaran. Manajemen perubahan diperlukan untuk meningkatkan
literasi teknologi pembelajaran bagi sivitas pendidikan.
Kata kunci: PTK, Pembelajaran Daring, Partisipasi, Group Investigation, WhatsApps Group
media belajar, kelas virtual atau daring, guru dan Jumlah pertanyaan dan tanggapan peserta didik
peserta didik yang tidak berada dalam satu pada pembelajaran daring TAV jauh lebih
tempat yang sama. Istilah lain terkait PJJ adalah sedikit dari pembelajaran tatap muka langsung.
pembelajaran dalam jaringan (daring). Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki
Pembelajaran daring adalah pembelajaran yang peserta didik setelah menerima pengalaman
menggunakan jaringan internet dengan belajar [9]. Hasil belajar mempunyai dua
aksesibilitas, konektivitas, fleksibilitas, dan indikator keberhasilan yaitu daya serap tinggi
kemampuan untuk memunculkan berbagai jenis dan tercapainya indikator tujuan pembelajaran
interaksi pembelajaran [3]. baik perorangan maupun kelompok [10]. Proyek
SMK adalah sekolah menengah yang menjadi salah satu capaian hasil belajar aspek
mempersiapkan peserta didik untuk siap kerja di keterampilan. Pada pembelajaran daring,
bidang tertentu dengan memperdalam peserta didik mengalami kesulitan untuk
keterampilan peserta didik. Muatan kurikulum menyelesaikan proyek. Tugas proyek dikumpul
kompetensi keahlian Teknik Audio Video melebihi batas waktu dan prosentasi peserta
(TAV) didominasi oleh mata pelajaran terkait didik yang tuntas KKM rendah. PJJ di SMK
keahlian (C) [4]. Teknis pembelajarannya menunjukkan bahwa pembelajaran daring tidak
berkaitan erat dengan lingkungan pembelajaran lebih menarik dari pembelajaran biasa [11].
praktik. Pembelajaran daring membatasi akses Strategi menarik pada pembelajaran daring perlu
peserta didik menggunakan alat bahan dan diupayakan pengajar untuk mendorong
tempat praktik di sekolah. Sejalan dengan partisipasi dan hasil belajar.
Onyema et al, bahwa gangguan belajar dan Contoh dari Learning Management System
kesulitas akses ke fasilitas pendidikan (LMS) misalnya Google Classroom (GC) dan
merupakan beberapa dampak Covid-19 [5]. Moodle. Meskipun moodle memiliki fitur yang
Tantangan pembelajaran daring SMK adalah lebih lengkap dari GC, tetapi memerlukan
mempertahankan penguasaan pembelajaran bantuan admin untuk persiapan penggunaannya.
yang bersifat keterampilan atau hands on. GC lebih sederhana dan dapat dikelola langsung
Komunikasi menjadi kunci utama interaksi oleh pengajar sendiri. GC merupakan aplikasi
sosial pengajar dan peserta didik di kelas. gratis kelas daring untuk mengelola
Komunikasi pada pembelajaran berpengaruh pembelajaran, mengukur capaian belajar dan
pada pemahaman peserta didik [6] dan umpan balik, media komunikasi dan memiliki
keberhasilan pembelajaran [7]. Pengajar harus perlindungan data [12]. WhatsApp (WA)
menentukan strategi atau teknik yang tepat agar merupakan aplikasi pesan berbasis ponsel pintar
komunikasi di kelas daring terjalin dengan baik. dan web untuk bertukar informasi dengan
Dampak dari penutupan sekolah selama pandemi berbagai media (teks, gambar, video, dan audio)
covid-19 adalah penggunaan teknologi pada [13]. WA merupakan aplikasi perpesanan yang
pembelajaran daring [5]. Pengajar paling banyak memiliki pengguna aktif didunia
mengupayakan komunikasi melalui penggunaan [14]. WA menjadi aplikasi perpesanan yang
teknologi. Implementasi pembelajaran daring paling banyak digunakan di Indonesia [15].
TAV di SMK N 1 Saptosari menggunakan Peserta didik telah terbiasa menggunakan WA.
Google Formulir (GF) untuk penugasan dan Hal tersebut dapat menghindari kesulitan teknis
Whatsapp Group (WAG) untuk berkoordinasi. pengoperasian pembelajaran daring [16]. WAG
Penggunaan teknologi pada pembelajaran merupakan fitur pada WA untuk membuat grup.
daring TAV SMK N 1 Saptosari di awal periode Beberapa penelitian terdahulu terkait GC
menunjukkan rendahnya partisipasi dan hasil dalam pembelajaran diantaranya adalah
belajar kurang optimal. Kontribusi peserta didik penerimaan peserta didik terhadap GC [17],
dalam mencapai tujuan pembelajaran [18], peran GC pada pembelajaran [19],
menunjukkan partisipasi peserta didik [8]. efektifitas GC dikelas [20]. [21], perbandingan
77 ELINVO (Electronics, Informatics, and Vocational Education), Mei 2020; 5(1): 75-88
GC dengan Moodle dan Edmodo [22], dan GC peneliti melakukan semua tahapan PTK.
sebagai media pembelajaran [23]. Penelitian Pengajar berkolaborasi dengan dosen prodi
terdahulu terkait WAG, diantaranya adalah Pendidikan Teknik Elektronika melakukan
persepsi peserta didik terhadap WA [24], perencanaan dan refleksi. Hal tersebut sejalan
peningkatan kemampuan menulis melalui dengan Kemmis et al bahwa pelaksanaan PTK
diskusi di WAG [25], [26], WAG untuk seringkali berkolaborasi dengan mitra akademis
meningkatkan interaksi [27], serta dampak dan untuk memberi masukan cara peningkatan
pendapat peserta didik mengenai penggunaan praktik pelaksanaan pengajaran yang dilakukan
WAG [28]. Pada penelitian ini GC dan WAG oleh pengajar [33]. Tahapan penelitian tersaji
menjadi media pada pembelajaran daring untuk pada Gambar 1.
meningkatkan partisipasi dan hasil belajar.
Model kooperatif merupakan alternatif Studi pendahuluan
untuk membantu peserta didik berpartisipasi
aktif dan meningkatkan hasil belajar. Model
Perencanaan SIKLUS ke-1
tersebut menekankan diskusi dan kerjasama [29]
serta mengembangkan keterampilan belajar
Tindakan dan Hasil
tingkat tinggi [30]. Group Investigation (GI) observasi
merupakan model kooperatif yang memiliki
karakteristik spesialisasi tugas [29], sehingga Refleksi Berhasil? Ya
cocok untuk pembelajaran praktikum di SMK.
Hal tersebut sejalan dengan penelitian yang Tidak
dilakukan di SMK terkait penerapan GI pada k
SIKLUS ke-2 Perencanaan
pembelajaran praktik [31]. GI merupakan
ulang
pembelajaran kooperatif inkuiri yang
mendorong kerjasama melakukan penyelidikan Tindakan dan
Hasil
secara sistematis dan melakukan presentasi. observasi
Penelitian terkait penggunaan WA pada model
Ya Berhasil? Refleksi
GI menunjukkan bahwa prestasi belajar lebih
baik daripada kelas kontrol [32]. Artikel ini
membahas penerapan GI pada pembelajaran Tidak
daring mata pelajaran kompetensi keahlian
Perencanaan ulang, SIKLUS ke-n
memanfaatkan WAG dan GC untuk
Tindakan dst.
meningkatkan partisipasi dan hasil belajar
peserta didik. Capaian hasil belajar khususnya Gambar 1. Tahapan penelitian adaptasi dari Kemmis
aspek keterampilan melalui penilaian proyek. et al. [33]
Pada penelitian ini, skor kuis diperoleh sudah diunggah di GC. Gambar 3 merupakan
setiap selesai pembelajaran KD dan skor proyek tangkapan layar WAG Ketika pengajar
tiap dua KD yang meliputi aspek pengetahuan menjelaskan Langkah pembelajaran sesuai
dan keterampilan. Indikator keberhasilan model GI, yaitu identifikasi topik, investigasi,
partisipasi belajar peserta didik adalah perolehan pealporan dan presentasi.
skor 80 yang merujuk pada beberapa penelitian
sebelumnya [38], [39]. Indikator keberhasilan
hasil belajar peserta didik yang mendapatkan
nilai KKM (75) [40]. Dikatakan berhasil apabila
ketercapaian skor dimiliki oleh lebih dari sama
dengan 80% peserta didik. Indikator tersebut
untuk menentukan penghentian siklus PTK.
Materi pembelajaran dibagikan pengajar melalui
Gambar 2. Contoh peta konsep
GC dan WAG berbentuk modul materi dan
modul praktik.
Pada tahapan tindakan, pengajar melakukan
proses pembelajaran sesuai RPP melalui
kegiatan di GC dan WAG. Tahapan observasi
dilakukan selama pembelajaran daring
berlangsung untuk melihat partisipasi belajar.
Selain itu juga untuk mengamati hasil atau Gambar 3. Tangkapan layar WAG tentang arahan
dampak dari diterapkannya model GI pada GC langkah GI
dan WAG. Tahapan refleksi untuk menganalisis
tindakan yang dilakukan, terkait kekurangan dan Table 4. RPP kesatu (IK: Indikator Keberhasilan;
PB: Partisipasi Belajar; HB: Hasil Belajar)
perbaikan terkait peningkatan partisipasi dan
hasil belajar. Perencanaan ulang dilakukan Tujuan
1. melalui kegiatan penyelidikan berkelompok,
apabila indikator keberhasilan belum tercapai, peserta didik dapat merencanakan pembuatan
lalu pelaksanaan tindakan, observasi dan rangkaian filter dengan sistematis
refleksi. Siklus tersebut berulang, sampai 2. melalui kegiatan penyelidikan berkelompok,
peserta didik dapat mengukur rangkaian filter
indicator keberhasilan tercapai. Perencanaan dengan benar
ulang tahapan pembelajaran pada RPP dilakukan Langkah: pembukaan, inti* dan penutup
dengan melakukan perbaikan berdasarkan hasil 1. Pembukaan: salam, berdoa, presensi, menanya
kesiapaan, tujuan dan penilaian, apersepsi
refleksi yang diimplementasikan pada siklus
2. Inti
berikutnya. Model GI [29] Media Aspek
(1) identifikasi topik dan
WAG1 PB1-4
HASIL DAN PEMBAHASAN pengelompokkan
(2) perencanaan tugas WAG2
(3) investigasi WAG2 PB1-3
RPP pada Tabel 4 merupakan perencanaan (4) pelaporan GC
pembelajaran pada siklus ke-1. RPP tersebut (5) presentasi hasil GC PB5, HB2
memuat KD 1 & KD 2. Pembelajaran daring (6) evaluasi GC HB1
3. Penutup: simpulan, umpan balik, rencana
dilakukan sesuai jadwal sekolah selama 2 jam pembelajaran berikutnya, berdoa, salam penutup
pelajaran yaitu 2 x 45 menit. Pengajar Penilaian
mengawali kegiatan PJJ dengan pembukaan. Variabel Instrumen IK*
PB: partisipasi Rubrik Skor > 80 muncul
Gambar 2 merupakan peta konsep pokok materi pada 80% peserta
yang dikirimlan pengajar di WAG kelas didik
(WAG1) saat melakukan penjelasan materi. HB1: kuis Kunci Skor > 75 muncul
HB2: proyek Rubrik pada 80% peserta
Sebelumnya modul materi dan modul praktik didik
Utami, S., Utami, P. Peningkatan Partisipasi Belajar dan Hasil Belajar Peserta Didik Teknik Audio Video… 80
Gambar 4 menunjukkan cara pengajar diteliti lebih lanjut dalam artikel ini. Di akhir sesi
mempersilakan peserta didik membentuk diberikan kuis sebagai umpan balik
kelompok. Pengajar melakukan pendekatan pembelajaran yan telah dilakukan. Hasil siklus
yang motivatif dan apresiatif. Untuk tahapan pertama dapat dilihat pada Tabel 5.
perencanaan tugas, pengajar mempersilahkan Tabel 5. Ketercapaian partisipasi dan hasil belajar
tiap kelompok membuat WAG kelompok peserta didik pada siklus ke-1 (PD: peserta didik)
(WAG2). Selama pembelajaran daring, peserta Variabel % Jumlah PD
didik diminta untuk mempelajari materi dari PB1-3 (komunikasi) 50 17
pengajar dengan sumber lainnya. Sumber- PB4 (kehadiran) 79.41 27
sumber tersebut dapat diambil dari link bahan PB5 (pengump. tugas) 44.12 15 (3 kelompok)
Rerata PB 57.84 19,67
bacaan dan video di internet yang sudah KKM HB1 (kuis) 67.65 23
diinformasikan pengajar di forum, maupun KKM HB2 (proyek) 70.59 24 (5 kelompok)
sumber lain yang dicari peserta didik secara
mandiri. Gambar 5 menunjukkan penugasan dan Tabel 5 menunjukkan bahwa: (1) baik dari
arahan mempelajari link yang telah disediakan skor minimal maupun prosentasi ketercapaian,
pengajar di GC. partisipasi belajar pada siklus ke-1 belum
berhasil ditingkatkan; (2) terdapat 11 peserta
didik yang belum tuntas KKM atau prosentase
peserta didik yang tuntas KKM tersebut belum
mencapai 80%, sehingga dapat dinyatakan
bahwa pada siklus ke-1 skor kuis belum berhasil
ditingkatkan; dan (3) prosentase peserta didik
yang tuntas KKM untuk penugasan proyek
sebesar 70.59% lebih kecil dari 80%, sehingga
dapat dinyatakan bahwa pada siklus ke-1 skor
proyek belum berhasil ditingkatkan. Hal tersebut
menunjukkan bahwa penerapan GI dengan
media daring yang dilakukan belum optimal,
sehingga perlu dilakukan perbaikan.
Beberapa temuan diperoleh pada tahapan
Gambar 4. Pengelompokkan
refleksi. Temuan pertama adalah kontribusi
partisipasi peserta didik di WAG lebih baik dari
kontribusi di GC (TK1). Peserta didik memiliki
perasaan dan niat positif terhadap integrasi WA
dalam pendidikan [24]. WAG dinilai ramah
pengguna dan mudah digunakan karena lebih
mudah terjadi interaksi intensif baik dengan
kelompok maupun pengajar, lebih nyaman
bertanya, berbagi tugas dan umpan balik
pengajar yang lebih mudah diakses [26].
Kendala lain yang ditemukan adalah peserta
didik banyak yang pasif saat diskusi (TK2).
Pengajar mempersilahkan peserta didik untuk
Gambar 5. Penugasan di GC
bertanya dan peserta didik lain dapat
Kontribusi inisiatif dari peserta didik menanggapi terlebih dahulu. Namun banyak
berupa rangkuman dapat dipindai lalu diunggah peserta didik tidak mengambil kesempatan
ke GC. Akan tetapi kontribusi inisiatif ini tidak tersebut. Aspek komunikasi di WAG muncul
81 ELINVO (Electronics, Informatics, and Vocational Education), Mei 2020; 5(1): 75-88
pada 17 peserta didik, sedangkan di GC 8 peserta komunikasi antara pengajar dan peserta didik
didik. 8 peserta didik yang berpartisipasi di GC melalui kemudahan diskusi dan berbagi
tersebut juga berpartisipasi di WAG. Integrasi informasi. Gambar 6 menunjukkan komunikasi
WA dan pembelajaran mempermudah di GC dan WAG.
(a) (b)
Gambar 6. (a) komunikasi di GC, (b) komunikasi di WAG
Pengajar memulai kelas daring sesuai sehingga pengajar dan peserta didik mengulang
dengan jadwal pelajaran di sekolah. Akan tetapi, informasi yang pernah dikirim. Hal tersebut
kehadiran peserta didik belum optimal (TK3). memberikan kesulitan dalam melakukan
Pada aspek kehadiran, jumlah kehadiran di pembelajaran ulang karena kesulitan melakukan
WAG (27 peserta didik) lebih banyak dari di GC pelacakan pesan.
(14 peserta didik). Perlu digarisbawahi, bahwa GC membantu efektifitas kinerja pengajar.
aspek kehadiran yang diukur adalah yang tidak Meskipun demikian, GC tidak berdampak secara
terlambat (toleransi keterlambatan 30 menit). signifikan terhadap pembelajaran [20].
Apabila jumlah peserta didik yang hadir Pengumpulan video di GC apabila terlambat
terlambat dihitung, jumlah peserta di WAG lebih dapat diketahui secara otomatis. GC mendukung
banyak dari GC. Pengajar melihat kehadiran kedisiplinan pengumpulan tugas karena
peserta didik melalui informasi keterbacaan memiliki tenggat waktu [19]. Penggunaan GC
pesan. memudahkan pengajar dalam proses penilaian
Penggunaan WA pada pembelajaran karena dapat diakses sewaktu-waktu dan dapat
menuntut pengajar meluangkan waktu dalam memiliki rekam jejak yang sudah dilakukan [42].
melakukan perencanaan pembelajaran Desain pengumpulan proyek adalah
khususnya kegiatan diskusi, agar terstruktur dan dikumpulkan di GC. Akan tetapi, pengumpulan
terarah. Terdapat istilah Kuliah WhatsApp proyek (3 kelompok terlambat) di GC lebih
(Kulwap), yaitu WAG yang membahas materi- sedikit dari (3 kelompok tepat waktu dan 1
materi tertentu dan waktu belajar sesuai kelompok terlambat) di WA (TK1). Gambar 7
kesepakatan. Kulwap harus memahami menunjukkan pengiriman tugas proyek di WAG.
karakteristik komunikasi yang tepat bagi peserta Gambar 8 menunjukkan pengiriman tugas
kulwap agar tujuan kulwap tercapai [41]. WAG proyek di GC. Beberapa peserta didik berdalih
pada pembelajaran daring di sekolah dapat bahwa keterlambatan pengiriman dikarenakan
mengadopsi hal tersebut, yaitu membuat penyusunan laporan (TK5) dan keterbatasan alat
kesepakatan waktu belajar dan manajemen dan bahan praktik (TK6). Pengumpulan video
materi terstruktur. Keterbatasan WAG ada pada presentasi melalui WA pribadi pengajar.
redundansi akibat penumpukan pesan (TK4), Berbagai temuan hasil refleksi siklus ke-1
Utami, S., Utami, P. Peningkatan Partisipasi Belajar dan Hasil Belajar Peserta Didik Teknik Audio Video… 82
Diskusi di beranda GC diubah ke WAG pesan (PL4). Gambar 10(c) terlihat bahwa
karena menurut peserta didik lebih mudah pengajar mengaktifkan mode pesan hanya admin
diakses dengan kondisi sinyal yang ada. Peserta saat memulai penjelasan materi.
didik merasa tidak nyaman dan tidak percaya diri
dengan penggunaan GC, terkait kendala teknis
pada perangkat dan jaringan internet serta
kurangnya instruksi [18]. Penggunaan teknologi
dalam pembelajaran merupakan salah satu aspek
yang mempengaruhi partisipasi peserta didik
[43]. GC dinilai kurang ramah bagi peserta didik
dalam hal konsumsi kuota internet. Hal tersebut
sejalan dengan salah satu temuan Alim et al.
bahwa keterbatasan GC adalah keterbatasan
untuk memiliki kuota data internet yang cukup
selama diskusi daring [21].
Terkait kepasifan peserta didik pada forum
diskusi, beberapa hal yang diupayakan pengajar
adalah: (1) menginformasilan bahwa partisipasi
aktif menjadi salah satu indikator penilaian
sikap; (2) melakukan pendekatan pribadi untuk
menguatkan percaya diri; dan (3) menyusun Gambar 10. (a) Komunikasi WA pribadi, (b) Upaya
materi audio visual yang menarik (PL2). Gambar proaktif pengajar, (c) Hanya admin kirim pesan, (d)
10(a) menunjukkan tangkapan layar WA pribadi Langkah investigasi ke sekolah
dengan peserta didik. Peserta didik tersebut
nyaman menanyakan kesulitan secara pribadi. Hasil investigasi tanpa melalui tahapan
Mudah dihubungi dan ramah merupakan salah pelaporan tetapi disajikan secara tersirat pada
satu upaya pengajar untuk meningkatkan saat presentasi (PL5). Laporan tim bagi peserta
partisipasi [43]. Pengajar dapat mengirim pesan didik yang memiliki keterampilan komunikasi
secara pribadi kepada peserta didik untuk lemah dapat mengganggu proses transfer
mendorong peserta didik yang masih belum informasi [31]. Gambar 10(d) menunjukkan
berani agar dapat berkomunikasi secara aktif langkah investigasi berupa pengerjaan proyek
(Gambar 10(b)). Hal tersebut merujuk pada dapat dilakukan di sekolah dengan
pendekatan yang dilakukan Li di kelas tatap memanfaatkan alat dan bahan praktik yang
muka. Li mendorong peserta didik dengan tersedia (PL6). Teknis pengerjaan tersebut
berbicara antar muka atau memberikan instruksi dengan tetap mematuhi protokol Covid-19 dan
tambahan [44]. Hal tersebut juga dapat berperan melakukan prosedur permohonan ijin ke sekolah
untuk mengaktifkan peserta didik membangun terlebih dahulu. Hal tersebut untuk memastikan
konsep pengetahuannya batasan jumlah peserta didik. Hasil siklus
Pengaturan ulang jadwal pembelajaran pertama dapat dilihat pada Tabel 8.
daring kepada siswa (PL3) dilakukan diawal Tabel 8. Ketercapaian partisipasi dan hasil belajar
pembelajaran. Pengajar memastikan terlebih peserta didik pada siklus ke-2 (PD: peserta didik)
dahulu terkait kehadiran peserta didik saat Variabel % Jumlah PD
menentukan jadwal pembelajaran daring. Pada PB1-3 (komunikasi) 88.24 30
saat penyampaian materi, pengajar melakukan PB4 (kehadiran) 91.18 31
PB5 (pengump. tugas) 85.29 29 (6 kelompok)
pengaturan di WAG berupa pesan hanya oleh Rerata PB 90.19 30.66
admin pada saat tertentu (ketika pemberian KKM HB1 (kuis) 82.35 28
materi) dan menginstruksikan untuk menandai KKM HB2 (proyek) 100 34 (7 kelompok)
Utami, S., Utami, P. Peningkatan Partisipasi Belajar dan Hasil Belajar Peserta Didik Teknik Audio Video… 84
Tabel 8 menunjukkan bahwa ketiga belajar penugasan proyek pada siklus pertama
variabel yaitu partisipasi belajar, skor kuis dan sebesar 70.59%, sedangkan pada siklus kedua
proyek memiliki prosentase lebih besar dari adalah 100%. Terdapat peningkatan hasil belajar
80%, sehingga dapat dinyatakan bahwa pada proyek sebesar 29.41%.
siklus ke-2 semua variabel telah terjadi Signifikansi kenaikan pada siklus kedua
peningkatan dengan indikator keberhasilan yang disebabkan karena peran aktif pengajar pada
telah tercapai. Hasil tersebut menunjukkan WAG kelas dengan memotivasi peserta didik
bahwa siklus PTK dapat dihentikan. Strategi pada forum diskusi melalui pertanyaan-
optimalisasi WAG dan GC pada model GI untuk pertanyaan singkat dan apresiasi kepada peserta
menerapkan partisipasi dan hasil belajar dapat didik baik yang berpendapat, menanggapi atau
digunakan mata pelajaran lain yang sejenis menyanggah pendapat dengan logis, menjawab
dengan karakteristik peserta didik dan pertanyaan, dan bertanya. Diskusi melalui WAG
lingkungan pembelajaran yang serupa. Dengan berhasil membuat suasana belajar daring
membandingan perolehan skor pada Tabel 5 dan menyenangkan disamping stimulus bahan ajar
Tabel 8 maka dapat diketahui, bahwa: (1) yang atraktif dan kompetensi dasar aplikatif
Partisipasi belajar pada siklus pertama bernilai sehingga peserta didik bisa langsung mengetahui
57.84%, sedangkan di skilus kedua sebesar perangkat yang di maksud. Selain itu juga
90.19%. Terdapat peningkatan sebesar 32.35% sebagai dampak positif dari dedikasi pengajar
untuk partisipasi belajar; (2) Hasil belajar kuis yang menghubungi peserta didik melalui WA
pada siklus pertama adalah 67.65%, sedangkan pribadi untuk mendorong partisipasi pada forum
di siklus kedua adalah 82.35%. Terdapaat diskusi dan menerima konsultasi melalui WA
peningkatan sebesar 14.70%; dan (3) Hasil pribadi pada jam tertentu.
10
Siklus 1
4 Siklus 2
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34
Tabel 9. Penjajaran pendekatan saintifik, 4C Skills dan Model GI untuk mendukung partisipasi dan hasil belajar
model GI 5M 4C skills media var.
(1) identifikasi M1: mengamati rangkaian pengatur nada C1, C3 WAG1: pengajar unggah PB1-4
topik dan (TC, berupa komponen DC dan AC; video dan gambar terkait,
pengelom- tanggapan frekuensi; cacat dan cakap silang) menenjelaskan materi (mode
pokkan M2: mendiskusikan yang diamati kirim pesan hanya oleh admin)
(2) perenca- M2: mendiskusikan pembagian tugas C3 WAG2: percakapan antar PB1-3
naan tugas anggota kelompok
(3) investigasi M3: membuat rangkaian TC, mengukur C1, C2, WAG1 dan WAG2: PB1-3
tanggapan frekuensi; cacat dan cakap silang C3, C4 komunikasi (diskusi)
M4: menganalisis tanggapan frekuensi serta
cacat dan cakap silang
(4) pelaporan, M5: membuat laporan dalam bentuk video C1, C2, WAG1: pengumpulan proyek PB5,
(5) presentasi presentasi penugasan proyek C3 HB2
(6) evaluasi C1 GC: pengiriman kuis HB1
85 ELINVO (Electronics, Informatics, and Vocational Education), Mei 2020; 5(1): 75-88
Tahapan presentasi peserta didik pada menjembatani peserta didik dan penggunaan
penelitian ini tidak dilaksanakan daring. Peserta teknologi dengan fitur manajemen pembelajaran
didik mengumpulkan pelaporan penugasan lengkap.
proyek dengan merekam video presentasi hasil.
Penilaian proyek pada presentasi bersifat DAFTAR PUSTAKA
kelompok. Pengajar belum mempertimbangkan [1] R. M. Viner et al., “School closure and
perbedaan porsi kontribusi dan kompetensi management practices during coronavirus
outbreaks including COVID-19: a rapid
penguasaan proyek masing-masing anggota systematic review,” Lancet Child Adolesc. Heal.,
kelompok. Apabila peserta didik mendapatkan vol. 4, no. 5, pp. 397–404, May 2020.
infrastruktur yang lebih baik, peningkatan [2] R. Indonesia, Peraturan Menteri Pendidikan dan
partisipasi dan hasil belajar lebih dapat Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 119
Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan
dioptimalkan melalui penyampaian video Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Pendidikan
presentasi interaktif pada pembelajaran daring Dasar dan Menengah. 2014.
(video conference). Berbagai sivitas Pendidikan [3] A. Sadikin and A. Hamidah, “Pembelajaran
Daring di Tengah Wabah Covid-19,” BIODIK,
perlu memahami pentingnya manajemen
vol. 6, no. 2, pp. 109–119, Jun. 2020.
perubahan. Satuan pendidikan, pendidik, dan [4] D. Jenderal, Peraturan Direktur Jenderal
peserta didik perlu mengadopsi teknologi, dan Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian
meningkatkan keterampilan digital sesuai Pendidikan dan Kebudayaan Nomor
07/D.D5/KK/2018 tanggal 7 Juni 2018 tentang
perkembangannya di dunia pendidikan. Struktur Kurikulum Sekolah Menengah
Kurikulum selama Pandemi seharusnya juga Kejuruan (SMK)/ Madrasah Aliyah Kejuruan
disesuaikan karena tidak semua kompetensi bisa (MAK). Jakarta, Indonesia, 2018, p. 307.
diajarkan melalui daring. [5] E. M. Onyema et al., “Impact of Coronavirus
Pandemic on Education,” J. Educ. Pract., vol.
11, no. 13, pp. 108–121, May 2020.
SIMPULAN [6] M. Anshari, M. N. Almunawar, M. Shahrill, D.
Pandemi Covid-19 membawa perubahan K. Wicaksono, and M. Huda, “Smartphones
mekanisme pada proses pembelajaran sehingga usage in the classrooms: Learning aid or
interference?,” Educ. Inf. Technol., vol. 22, no.
sekolah memberlakukan pembelajaran daring. 6, pp. 3063–3079, Nov. 2017.
Pengimplementasian teknologi pembelajaran [7] J. O’Flaherty and C. Phillips, “The use of flipped
perlu memperhatikan kebutuhan karakteristik classrooms in higher education: A scoping
review,” Internet High. Educ., vol. 25, pp. 85–
peserta didik dan dukungan teknis teknologi.
95, Apr. 2015.
WA merupakan aplikasi yang tidak dirancang [8] E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional:
khusus untuk pembelajaran. Penerapan model Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan
GI dengan dukungan WA mampu meningkatkan Menyenangkan, 15th ed. Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2017.
partisipasi dan hasil belajar peserta didik TAV
[9] N. Sudjana, Dasar-dasar proses belajar
SMKN 1 Saptosari dalam pembelajaran daring. mengajar. Bandung: Grasindo, 2009.
Terdapat peningkatan sebesar 32.35% untuk [10] S. B. Djamaroh and A. Zain, Strategi Belajar
partisipasi belajar. Terdapaat peningkatan Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta, 2006.
[11] B. Mulyanti, W. Purnama, and R. E. Pawinanto,
sebesar 14.70%. Terdapat peningkatan hasil “Distance Learning In Vocational High Schools
belajar proyek sebesar 29.41%. Partisipasi dan During The Covid-19 Pandemic In West Java
hasil belajar peserta didik pada pembelajaran Province, Indonesia,” Indones. J. Sci. Technol.,
daring di SMK dapat ditingkatkan dengan vol. 5, no. 2, pp. 271–282, 2020.
[12] Google, “Get more time to teach and inspire
menghadirkan kegiatan investigasi, diskusi dan learners with Classroom,” Google for Education.
presentasi. Dedikasi pengajar berperan penting [Online]. Available:
dalam menghadirkan teknologi pada kondisi [Link]
kemampuan literasi dan akses teknologi peserta dal_active=none. [Accessed: 12-Apr-2020].
[13] M. S. Sahu, “An Analysis of WhatsApp
didik tertentu. Manajemen perubahan yang Forensics in Android Smartphones,” Int. J. Eng.
didukung berbagai sivitas Pendidikan dapat Res., vol. 3, no. 5, pp. 349–350, May 2014.
87 ELINVO (Electronics, Informatics, and Vocational Education), Mei 2020; 5(1): 75-88
[14] Statista, “Most popular global mobile messenger [26] F. M. Sari and S. N. Putri, “Academic Whatsapp
apps as of July 2020, based on number of Group: Exploring Students’ Experiences in
monthly active users,” Statista, 2020. [Online]. Writing Class,” Teknosastik, vol. 17, no. 2, p. 56,
Available: Oct. 2019.
[Link] [27] A. R. Fauzi, “The development of whatsapp
-popular-global-mobile-messenger-apps/. group discussion to solve the limitation of
[15] S. Kemp, “Digital 2020: 3.8 Billion People Use lecture-students interaction at class,” J. Phys.
Social Media,” Wearesocial, 2020. [Online]. Conf. Ser., vol. 1193, p. 012006, Apr. 2019.
Available: [28] L. Cetinkaya, “The Impact of Whatsapp Use on
[Link] Success in Education Process,” Int. Rev. Res.
2020-3-8-billion-people-use-social-media#. Open Distrib. Learn., vol. 18, no. 7, Nov. 2017.
[16] M. A. Almaiah, A. Al-Khasawneh, and A. [29] E. R. Slavin, Cooperative learning: theory,
Althunibat, “Exploring the critical challenges research and practice (Terjemahan Lita).
and factors influencing the E-learning system Bandung: Nusa Media, 2009.
usage during COVID-19 pandemic.,” Educ. Inf. [30] R. M. Gillies, Cooperative Learning. California:
Technol., pp. 1–20, May 2020. Sage Publications, 2007.
[17] R. A. S. Al-Maroof and M. Al-Emran, “Students [31] P. Utami and P. Pardjono, “Perbedaan Jigsaw II
Acceptance of Google Classroom: An dan GI terhadap pemahaman konsep dan
Exploratory Study using PLS-SEM Approach,” pemecahan masalah masalah pada kompetensi
Int. J. Emerg. Technol. Learn., vol. 13, no. 06, p. mendiagnosis permasalahan pengoperasian PC
112, May 2018. dan Peripheral ditinjau dari motivasi belajar,” J.
[18] M. Mualim, D. W. Ma’rufah, and E. Sartika, Pendidik. Vokasi, vol. 3, no. 2, Jun. 2013.
“The Strengths and Pitfalls of Google Classroom [32] H. Pratama and S. Kartikawati, “The Effect of
Application to Gen-Z Students’ Learning WhatsApp Messenger As Mobile Learning
Hybridity,” in Proceeding of International Integrated with Group Investigation Method of
Conference on Islamic Education: Challenges in Learning Achievement,” Int. J. Sci. Appl. Sci.
Technology and Literacy, 2019, pp. 297–301. Conf. Ser., vol. 2, no. 1, p. 164, 2017.
[19] S. Sukmawati and N. Nensia, “The Role of [33] S. Kemmis, R. McTaggart, and R. Nixon, The
Google Classroom in ELT,” Int. J. Educ. Vocat. action research planner: Doing critical
Stud., vol. 1, no. 2, Jun. 2019. participatory action research. 2014.
[20] K. A. Azhar and N. Iqbal, “Effectiveness of [34] Chozaipah, “Peran dan Partisipasi Siswa dalam
Google Classroom: Teachers’ Perceptions,” Pembelajaran terhadap Prestasi Belajar
Prizren Soc. Sci. J., vol. 2, no. 2, pp. 52–66, Akuntansi di SMKN 1 Dumai Provinsi Riau,” J.
2018. Serambi PTK, vol. V, no. 1, pp. 60–65, 2018.
[21] N. Alim, W. Linda, F. Gunawan, and M. S. Md [35] K. E. Len, “Classroom Communication
Saad, “The Effectiveness of Google Classroom Techniques: A Tool for Pupils’ Participation in
as An Instructional Media: A Case of State the Learning Process across the Curriculum,”
Islamic Institute of Kendari, Indonesia,” Creat. Educ., vol. 09, no. 03, pp. 535–548, 2018.
Humanit. Soc. Sci. Rev., vol. 7, no. 2, pp. 240– [36] M. P. dan K. R. Indonesia, Surat Edaran Nomor
246, Mar. 2019. 14 Tahun 2019 tentang Penyederhanaan
[22] A. B. Hakim, “Efektifitas Penggunaan E- Rencana Pelaksanaan Pembelajaraan. Jakarta,
Learning Moodle, Google Classroom Dan Indonesia, 2019.
Edmodo,” I-Statement, vol. 2, no. 1, 2016. [37] Sukidin, Basrowi, and Suranto, Manajemen
[23] S. Soni et al., “Optimalisasi Penggunaan Google Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Insan
Classroom, E-Learning & Blended Learning Cendekia, 2010.
sebagai Media Pembelajaran Bagi Guru dan [38] Nurhayati, “Peningkatan partisipasi dan prestasi
Siswa di SMK Negeri 1 Bangkinang,” J. belajar PKn dengan model PAKEM siswa
Pengabdi. UntukMu NegeRI, vol. 2, no. 1, pp. Sekolah Dasar,” JPSD, vol. 2, no. 1, pp. 43–51,
17–20, Jun. 2018. 2016.
[24] A. J. Joicy and S. A. Sornam, “Perception of [39] A. S. Budhi Ningrum and I. Widyawati,
WhatsApp Usage among Students of College of “Improving students’ reading comprehension
Excellence: A Case Study,” Indian J. Inf. skill using herringbone technique at MTS Al-
Sources Serv., vol. 8, no. 1, pp. 73–78, 2018. Fatah Badas,” INFERENSI, J. Penelit. Sos.
[25] S. Wahyuni and K. Febianti, “The use of Keagamaan, vol. 9, no. 2, pp. 397–416, Dec.
WhatsApp group discussion to improve students’ 2015.
writing achievement,” Indones. Educ. Adm. [40] T. Kesiswaan, Tata tertib peserta didik SMKN 1
Leadersh. J., vol. 1, no. 1, pp. 45–51, 2019. Saptosari. Gunung kidul: SMK N 1 Saptosari
(untuk kalangan sendiri), 2020.
Utami, S., Utami, P. Peningkatan Partisipasi Belajar dan Hasil Belajar Peserta Didik Teknik Audio Video… 88
[41] N. C. Marlina, “‘Kuliah Whatsapp (Kulwap)’ [45] P. Utami, G. P. Cikarge, M. E. Ismail, and S.
pada Komunitas Virtual Family Support Group,” Hashim, “Teaching Aids in Digital Electronics
in Mediamorfosa: Transformasi Media Practice through Integrating 21st Century
Komunikasi Di Indonesia, F. Junaedi, Ed. Learning Skills using a conceptual approach,” in
Yogyakarta: Buku Litera, 2017, pp. 313–32. Journal of Physics: Conf. Series, pp. 1–9.
[42] Google, Google Classroom: More time to foster [46] N. Blair, “Technology Integration for the ‘New’
a love of learning. Google LLC 1600 21st Century Learner,” Principal, vol. 91, no. 3,
Amphitheatre Parkway, Mountain View, CA pp. 8–11, 2012.
94043, 2020. [47] S. Hemrungrote, P. Jakkaew, and S.
[43] M. Y. Abdullah, N. R. A. Bakar, and M. H. Assawaboonmee, “Deployment of Google
Mahbob, “Student’s Participation in Classroom to enhance SDL cognitive skills: A
Classroom:What Motivates them to Speak up?,” case study of introduction to information
Procedia - Soc. Behav. Sci., vol. 51, pp. 516–522, technology course,” in 2017 International
2012. Conference on Digital Arts, Media and
[44] J. Robbins, “UNESCO: 290 Million Students Technology (ICDAMT), 2017, pp. 200–204.
Stay Home due to Coronavirus,” VOA Learning [48] E. Fernández-Martínez, E. Andina-Díaz, R.
English, 2020. [Online]. Available: Fernández-Peña, R. García-López, I. Fulgueiras-
[Link] Carril, and C. Liébana-Presa, “Social Networks,
290-million-students-stay-home-due-to- Engagement and Resilience in University
coronavirus/[Link]. [Accessed: 12-Apr- Students,” Int. J. Environ. Res. Public Health,
2020]. vol. 14, no. 12, p. 1488, Dec. 2017.