0% found this document useful (0 votes)
85 views10 pages

Trisik Beach Turtle Conservation Tourism

This document summarizes a research paper that aims to identify aspects that must be fulfilled to develop the Trisik Beach sea turtle conservation area in Kulonprogo, Indonesia into an educational tourism destination, while maintaining its main function of supporting marine conservation activities. The conservation area is an important habitat for nesting sea turtles like the green turtle, hawksbill turtle, and olive ridley turtle. The research identifies guidelines for the recreational and educational development of the area to support future planning, including aspects like monitoring nesting turtles carefully without disturbance and relocating eggs to protected hatcheries.

Uploaded by

Darwin Rapperman
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
85 views10 pages

Trisik Beach Turtle Conservation Tourism

This document summarizes a research paper that aims to identify aspects that must be fulfilled to develop the Trisik Beach sea turtle conservation area in Kulonprogo, Indonesia into an educational tourism destination, while maintaining its main function of supporting marine conservation activities. The conservation area is an important habitat for nesting sea turtles like the green turtle, hawksbill turtle, and olive ridley turtle. The research identifies guidelines for the recreational and educational development of the area to support future planning, including aspects like monitoring nesting turtles carefully without disturbance and relocating eggs to protected hatcheries.

Uploaded by

Darwin Rapperman
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd

Volume 18 Issue 1 April 2020, pages:43-52

Identifikasi Aspek Pengembangan Kawasan Konservasi Penyu


Pantai Trisik sebagai Wadah Wisata Edukasi Penyu
di Kulonprogo
Identification of the Development Aspects of Trisik Beach Sea
Turtle Conservation Area as a Turtle Education Tourism Object in
Kulonprogo
Chiquita Darmarani 1*, Mohamad Muqoffa 2, Ummul Mustaqimah 3
Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret 1*
Email : chiquitadarmarani@[Link]
Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret2
Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret 3

DOI: [Link]
Received: October 4, 2019 Revised : March 20,2020 Accepted: March 20,2020 Available online:April 30, 2020

Abstract
Sea turtle is classified into endangered animal. One of the areas which is designated as sea turtle
conservation area in Indonesia is located at Trisik Beach, Kulonprogo. The government’s sea turtle
conservation effort is supported by the Penyu Abadi Conservation Group, that has been carrying out
sea turtle conservation activities since 2004. By the development of this conservation activities, in
2018, Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta finally planned a development program for
the attractiveness of sea turtle conservation areas on the southern coast of Yogyakarta, including
Trisik Beach. One form of developing the attraction of conservation areas is sea turtle educational
tourism object. The development of a sea turtle conservation area into a tourist attraction for sea
turtle education should not disturb the balance of the natural ecosystem of Trisik Beach sea turtle
nesting. Therefore, the problem formulated in this research is what aspects must be fulfilled to
realize the recreational sea turtle educational tourism, by paying attention to its main function as a
supporter of regional marine conservation activities. The problem solving is done by applying the
applied research methods, namely the type of research that aims to provide practical solutions for
the problem. This research produced some guidelines that can be implemented in the development of
Trisik Beach sea turtle conservation area, to be the basis for future development planning.

Keywords: sea turtle conservation, educational tourism, Trisik Beach, recreational design principle,
development of regional marine conservation areas principle

1. PENDAHULUAN telah lama terancam, baik dari alam maupun


kegiatan manusia Error! Reference source
Penyu merupakan reptil laut yang masuk ke
not found.. Pergeseran fungsi lahan,
dalam daftar hewan terancam punahError!
pengelolaan teknik konservasi yang tidak
Reference source not found.. Keberadaannya
Arsitektura : Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan, Vol. 18 (1) April 2020: 43-52

memadai, perubahan iklim, pemburuan penyu Gambar 1. Lokasi Pengembangan Kawasan


dan telurnya secara ilegal, serta ancaman Konservasi Penyu Pantai Trisik
predator menjadi faktor-faktor penyebab
turunnya populasi penyu Error! Reference Secara teknis, kegiatan konservasi yang
source not found.. Isu kepunahan penyu dilakukan meliputi pemantauan penyu bertelur,
tersebut membuat Indonesia yang menjadi penetasan telur semi alami, pembesaran tukik,
habitat 6 dari 7 spesies penyu di dunia, dan pelepasan tukik. Namun, pusat konservasi
memiliki kewajiban untuk ikut berperan penyu diizinkan untuk memiliki kepentingan
menjaga kelestarian penyu laut (Direktorat khusus seperti pendidikan, penelitian, dan
Konservasi dan Taman Nasional Laut, 2009). wisata, sehingga beberapa tukik hasil
Salah satu bentuk menyelamatkan penyu laut penetasan semi alami dapat dibesarkan pada
di Indonesia adalah dengan meningkatkan pusat konservasi (Direktorat Konservasi dan
kesadaran masyarakat pada upaya Taman Nasional Laut, 2009). Penyu yang
perlindungan penyu Error! Reference source bertelur di Pantai Trisik adalah jenis penyu
not found.. Peningkatan kesadaran masyarakat sisik (lihat Gambar 2a), penyu lekang (lihat
pada upaya perlindungan penyu dilakukan Gambar 2b), dan penyu hijau (Lihat Gambar
dengan memberikan edukasi seputar penyu 2c). Masing-masing jenis penyu tersebut
kepada masyarakat. memliki karakteristik yang akan
mempengaruhi proses identifikasi aspek
Dusun Trisik, Desa Banaran, Kabupaten pengembangan kawasan konservasi penyu
Kulonprogo, merupakan salah satu daerah Pantai Trisik sebagai wadah wisata edukasi
yang telah ditetapkan sebagai kawasan penyu. Karakteristik masing-masing jenis
konservasi penyu di pesisir pantai selatan penyu Pantai Trisik dapat dilihat pada Tabel 1.
Yogyakarta (Pemerintah Daerah Kulonprogo,
2012). Upaya konservasi penyu Pemerintah
Kulonprogo, didukung oleh adanya Kelompok
Konservasi Penyu Abadi di Pantai Trisik
Error! Reference source not found..
Kegiatan konservasi oleh Kelompok
Konservasi Penyu Abadi telah dilakukan sejak
tahun 2004Error! Reference source not
found.. Dalam perkembangan kegiatan (a)
konservasi tersebut, Dinas Pariwisata Daerah
Istimewa Yogyakarta pun telah merencanakan
untuk melakukan pengembangan daya tarik
kawasan konservasi penyu di pantai selatan
Daerah Istimewa Yogyakarta, termasuk Pantai
Trisik (Dinas Pariwisata Daerah Istimewa
Yogyakarta, 2018). Lokasi kawasan
pengembangan konservasi penyu Pantai Trisik
(Gambar 1)

(b)

(c)

44
Chiquita Darmarani, Mohamad Muqoffa, Ummul Mustaqimah, Identifikasi Aspek Pengembangan….

Gambar 2. Jenis-jenis Penyu Pantai Trisik pemantauan penyu bertelur harus dilakukan
Sumber: Direktorat Konservasi dan Taman dengan hati-hati, karena penyu sangat sensitif
Nasional Laut, 2009 saat bertelur. Pengamatan harus dilakukan dari
Tabel 1. Karakteristik Penyu Pantai Trisik jarak yang relatif jauh, tidak berisik, dan tidak
Ciri-Ciri Makanan Jumlah
boleh menyalakan sinar. Waktu yang
Telur
dibutuhkan oleh seekor penyu dari saat muncul
Penyu Sisik
dari laut hingga kembali ke laut berkisar antara
• Panjang lengkung Termasuk 130
karapas berkisar 90 karnivora butir 1-11 jam. Waktu tersebut dipengaruhi oleh
cm (memakan tiap jenis penyu, tingkat gangguan yang dihadapi
• Memiliki muka karang kali penyu, dan kondisi fisik pantai yang
yang kecil dan lunak, cumi, bertelur bersangkutan. Setelah proses peneluran
rahang seperti udang) selesai, pemantau kemudian memindahkan
paruh rajawali telur-telur tersebut ke area penetasan telur
• Terdapat 4 pasang semi alami. Pemindahan tersebut dilakukan
lempengan pada untuk menyelamatkan sarang telur dari
karapas gelombang air laut, agar telur tidak mengalami
Penyu Lekang pembusukan (Direktorat Konservasi dan
• Jenis penyu yang Termasuk 110 Taman Nasional Laut, 2009).
berukuran paling omnivora butir
kecil (memakan tiap
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi
• Panjang lengkung kepiting, kali
karapas berkisar 70 udang, bertelur aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam
cm lobster, mengembangkan kawasan konservasi penyu
• Karapasnya lamun, alga, Pantai Trisik sebagai wadah wisata edukasi di
berwarna hijau ikan kecil) Kulonprogo. Sasaran jangka pendek yang
tetara diharapkan adalah untuk mempersiapkan
• Terdapat 6 atau perencanaan destinasi wisata Pantai Trisik,
lebih pasang yang dapat dilakukan oleh segenap pemangku
lempeng karapas kebijakan dan pelaku wisata di Kulonprogo.
Penyu Hijau Sasaran jangka panjang yaitu untuk menjaga
• Merupakan penyu Termasuk 115 kelestarian habitat alami peneluran penyu
terbesar kedua herbivora butir Pantai Trisik, serta menarik minat pengunjung
• Memiliki 4 pasang (memakan tiap untuk datang dan turut serta menjaga
lempeng karapas lamun dan kali
kelestarian penyu.
• Jaringan lemak alga) bertelur
pada siripnya
berwarna hijau
Pengembangan daya tarik kawasan konservasi
• Bentuk karapas penyu di Pantai Trisik perlu memperhatikan
menyerupai bentuk permasalahan yang dihadapi oleh Kelompok
hati Konservasi Penyu Abadi dalam upaya
Sumber: WWF Indonesia, 2011 penyelamatan penyu selama ini. Kelompok
Konservasi Penyu Abadi terkendala oleh
Penyu betina akan naik ke pantai saat masa minimnya sarana dan prasarana penangkaran
peneluran tiba. Setiap jenis penyu memiliki penyu di Pantai TrisikError! Reference
waktu peneluran yang berbeda satu sama lain. source not found.. Kegiatan konservasi yang
Penyu hijau memiliki waktu peneluran pada dilakukan saat ini belum didukung oleh
pukul 21.00 hingga pukul 02.00. Penyu lekang fasilitas penunjang yang memadai, serta belum
memiliki waktu peneluran pada pukul 20.00 terdapat sarana terpusat yang dapat digunakan
hingga pukul 00.00. Penyu sisik memiliki sebagai sumber informasi bagi masyarakat
waktu peneluran yang tidak pasti, yaitu kadang umum dan memaksimalkan potensi rekreasi
malam hari atau pun siang hari (Direktorat Pantai Trisik (lihat Gambar 3). Sejauh ini,
Konservasi dan Taman Nasional Laut, 2009). terdapat 4 bak penampung penyu berukuran
masing-masing 1x2 meter yang tidak
Kegiatan konservasi dimulai melalui kegiatan dilengkapi saluran penyediaan air asin. Jumlah
pemantauan penyu bertelur. Kegiatan dan ukuran bak tersebut, tidak sebanding

45
Arsitektura : Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan, Vol. 18 (1) April 2020: 43-52

dengan jumlah penyu yang mencapai puluhan Gambar 4. Kondisi Kolam Penangkaran Penyu di
ekor. Kepadatan di bak penampung tersebut Pusat Konservasi Penyu Abadi Pantai Trisik
memicu stress pada penyu dan menyebabkan
kematian. Selain itu, suplai air untuk habitat Permasalahan dalam penelitian ini yaitu aspek
penyu selama ini berasal dari air sumur buatan apa saja yang harus dipenuhi untuk
yang berisi air asin resapan. Hal tersebut mewujudkan wisata edukasi penyu yang
menyebabkan munculnya jamur di bak-bak rekreatif, tetapi tetap memperhatikan fungsi
penampung penyu, yang kemudian utamanya sebagai pendukung kegiatan
mempengaruhi kesehatan penyu (lihat Gambar konservasi laut daerah. Dari permasalahan
4). tersebut diambil keputusan bahwa
pengembangan daya tarik kawasan konservasi
penyu di Pantai Trisik sebagai wisata edukasi,
tidak hanya berorientasi pada prinsip desain
yang rekreatif, namun juga harus memenuhi
persyaratan teknis pengembangan kawasan
konservasi laut daerah. Teori yang digunakan
dalam penelitian ini yaitu teori prinsip desain
rekreatif menurut Suardana dan teori
pengembangan kawasan konservasi laut
daerah menurut Departemen Kelautan dan
Perikanan.
Prinsip desain rekreatif digunakan untuk
menghasilkan pengembangan kawasan
konservasi penyu Pantai Trisik yang
menyenangkan, memiliki daya tarik wisata
yang unik, serta memiliki identitas bangunan
yang khas. Prinsip desain rekreatif menurut
Suardana (2005), terdiri dari:
a. Bentuk dan tampilan bangunan yang
dinamis
b. Suasana ruang bebas dan non formal
Gambar 3. Kondisi Pusat Konservasi Kelompok c. Tidak monoton dalam penggunaan warna
Penyu Abadi Pantai Trisik dan material
d. Tata bangunan memudahkan sirkulasi
pengunjung dalam berwisata

Pemenuhan persyaratan teknis pengembangan


kawasan konservasi laut daerah, bertujuan
untuk menghasilkan pengembangan kawasan
konservasi penyu Pantai Trisik, yang tetap
menjaga kelestarian habitat alami penyu Pantai
Trisik. Adanya pengembangan kawasan
konservasi penyu Pantai Trisik sebagai wisata
edukasi tidak boleh mengganggu
keseimbangan ekosistem alami Pantai Trisik.
Prinsip pengembangan kawasan konservasi
laut daerah menurut Departemen Kelautan dan
Perikanan (2006), terdiri dari:
a. Prinsip pendekatan ekosistem
Prinsip pendekatan ekosistem berarti desain
dan konstruksi kawasan konservasi
dikerjakan sesuai dengan struktur,
karakteristik, dan dinamika alam Pantai

46
Chiquita Darmarani, Mohamad Muqoffa, Ummul Mustaqimah, Identifikasi Aspek Pengembangan….

Trisik, sebagai habitat alami penyu hijau, konservasi laut daerah, serta data tentang
penyu sisik, dan penyu lekang. Penjabaran pengembangan obyek wisata edukasi. Data
prinsip pendekatan ekosistem antara lain: yang diperoleh kemudian dianalisis dengan
1) Menghindari kontak langsung antara teknik analisis SWOT. Teknik analisis SWOT
area wisata dengan area peneluran dipilih karena dianggap mampu melihat
alami. persoalan dari empat sisi sekaligus, baik dari
2) Tidak banyak menggunakan lahan agar sisi positif maupun sisi negatifnya. Keempat
area vegetasi pantai tetap terjaga. sisi tersebut adalah sisi kekuatan (strengths),
3) Merespon struktur dan dinamika alam sisi kelemahan (weakness), sisi peluang
setempat. (opportunities), dan sisi ancaman (threats).
4) Harmonisasi bangunan dengan Analisis SWOT dapat digunakan secara ampuh
lingkungan setempat. untuk menentukan langkah terbaik
b. Prinsip keterbukaan penyelesaian masalah Error! Reference
Prinsip keterbukaan berarti kegiatan source not found.. Analisis data kemudian
konservasi meliputi kegiatan pembesaran menghasilkan kriteria perencanaan
dan pengembangbiakan satwa liar dengan pengembangan kawasan konservasi. Kriteria
tetap mempertahankan sifat alaminya. yang didapat dari analisa data kemudian
Prinsip keterbukaan kawasan konservasi disimpulkan dalam bentuk kajian konsep
diterapkan pada pengolahan karakteristik perencanaan pengembangan kawasan
ruang dapat mewadahi kegiatan konservasi penyu Pantai Trisik sebagai wisata
pengembangbiakan penyu dengan tetap edukasi.
mempertahankan sifat alami penyu di
habitat aslinya.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Pantai Trisik merupakan kawasan penyu
2. METODE
dewasa dari Samudera Hindia naik ke kawasan
Metode penelitian yang digunakan adalah pesisir untuk bertelur. Jenis penyu yang
penelitian terapan. Penelitian terapan adalah bertelur di Pantai Trisik terdiri dari penyu
jenis penelitian yang bertujuan untuk sisik, penyu lekang, dan penyu hijau. Area
memberikan solusi atas permasalahan tertentu bertelur alami bagi penyu dewasa berada di
secara praktis. Penelitian ini tidak berfokus rerimbunan vegetasi pandan laut, yang
pada pengembangan sebuah ide, teori, atau berbatasan langsung dengan tapak. Letak area
gagasan, tetapi lebih berfokus pada penerapan peneluran alami penyu terhadap area
penelitian tersebut. pengembangan dapat dilihat pada Gambar 5
Penelitian diawali dengan tahapan perumusan berikut.
permasalahan dalam melakukan
pengembangan kawasan konservasi penyu
Pantai Trisik. Tahap berikutnya yaitu
pengumpulan data yang terdiri dari data primer
dan data sekunder. Data primer terdiri dari
data kondisi lapangan yang didapatkan melalui
observasi pada tapak di Pantai Trisik, Desa
Banaran, Kabupaten Kulonprogo. Data primer
yang diperoleh meliputi luasan tapak, batas
tapak terhadap kawasan sekitar, serta kondisi
iklim dan geografis tapak. Data sekunder
adalah data yang diperoleh melalui sumber
referensi. Data sekunder yang diperoleh
meliputi data tentang kawasan wisata Pantai
Trisik, data tentang standar ketersediaan
sarana dan prasana konservasi penyu, data
tentang standar pengembangan kawasan

47
Arsitektura : Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan, Vol. 18 (1) April 2020: 43-52

Hasil observasi dan penelitian lapangan secara


mendalam pada kawasan konservasi penyu
Pantai Trisik menyatakan terdapat banyak
area faktor penting untuk dianalisis. Faktor tersebut
pengembanga terdiri dari faktor positif maupun negatif.
n Analisis SWOT diandalkan sebagai alat
analisis yang mampu menghasilkan solusi dan
berbagai strategi penyelesaian masalah di
lapangan.

Pada tabel analisis SWOT (Tabel 2), disusun


identifikasi faktor dari berbagai kekuatan
(strengths), kelemahan (weaknesses), peluang
(opportunities), dan ancaman (threats) dari
kondisi yang sekarang ada di Pantai Trisik.

Gambar 5. Area Peneluran Alami Penyu Pantai


Trisik

Selain vegetasi pandan laut, pada Pantai Trisik


juga terdapat jenis vegetasi lain yang berfungsi Tabel 2. Identifikasi SWOT
merangsang penyu agar naik ke pantai STRENGTH – kekuatan (positif)
peneluran untuk bertelur. Vegetasi-vegetasi Pantai Trisik menjadi habitat alami
tersebut harus tetap dipertahankan, atau peneluran penyu jenis sisik, lekang, dan
bahkan ditambah, agar kelestarian proses hijau
alami peneluran penyu tetap terjaga. Pemetaan Masyarakat setempat tergabung dalam
vegetasi Pantai Trisik dapat dilihat pada Komunitas Penyu Pantai Trisik, turut
S
Gambar 6 berikut. berperan aktif dalam kegiatan pelestarian
penyu Pantai Trisik
Dinas Pariwisata Daerah Istimewa
Yogyakarta merencanakan pengembangan
daya tarik kawasan konservasi penyu di
Pantai Trisik sebagai destinasi wisata
WEAKNESS – kelemahan (negatif)
Kegiatan konservasi yang dilakukan saat
ini belum didukung oleh fasilitas
penunjang yang memadai
Belum terdapat sarana terpusat yang dapat
digunakan sebagai sumber informasi bagi
W masyarakat umum dan memaksimalkan
potensi rekreasi Pantai Trisik
Penyediaan air asin dan pengolahan air
kolam penangkaran tidak optimal
Perbandingan ukuran kolam dan jumlah
penyu tidak sesuai standar sehingga
menyebabkan stress pada penyu
OPPORTUNITIES – peluang (positif)
Peningkatan persentase keberhasilan
menetasnya telur penyu di pusat
O konservasi
Potensi sumber daya lingkungan
Gambar 6. Vegetasi Eksisting Pesisir Pantai Trisik Program pemerintah menumbuhkan
pengetahuan masyarakat mengenai penyu

48
Chiquita Darmarani, Mohamad Muqoffa, Ummul Mustaqimah, Identifikasi Aspek Pengembangan….

THREATS – ancaman (negatif) dengan


Ancaman bencana alam di pesisir pantai memperhatikan
T selatan Yogyakarta aspek resiliensi
Kerusakan habitat alami peneluran penyu bangunan terhadap
di Pantai Trisik akibat ulah manusia bencana alam
[d] Perencanaan [e] Konsep
Tabel 2 menunjukkan faktor-faktor negatif wadah kegiatan pengembangan
W
pada kawasan konservasi penyu Pantai Trisik. pemeliharaan dan kawasan konservasi
E
wisata edukasi penyu Pantai Trisik
Faktor negatif terdiri dari kelemahan A
penyu Pantai Trisik untuk
(weakness) dan ancaman (threat) di kawasan K
dengan memenuhi menghilangkan
pengembangan konservasi. Faktor negatif N
standar pedoman semua
tersebut kemudian menjadi perhatian utama E
teknis pengelolaan masalah/konflik di
dalam penelitian, untuk dicarikan solusi S
konservasi penyu Pantai Trisik.
S
pemecahan masalahnya. Tabel 2 juga menurut Direktorat
E
menunjukkan faktor-faktor positif dari kondisi Konservasi dan
S
dan situasi sosial, serta alam lingkungan Taman Nasional
kawasan konservasi penyu Pantai Trisik. Laut
Faktor-faktor positif tersebut berupa kekuatan
(strength) dan peluang (opportunities) yang Analisis pertama yaitu dengan
terdapat pada masyarakat lokal dan lingkungan mempertimbangkan faktor positif di kawasan
setempat. Penggalian dan elaborasi faktor- pengembangan kawasan konservasi penyu
faktor positif diharapkan dapat menjadi Pantai Trisik, yaitu kekuatan (strengths) dan
strategi pengolahan kawasan konservasi peluang (opportunities). Kedua faktor dikaji
menjadi sebuah destinasi wisata edukasi yang untuk menemukan kebijakan utama arah
tetap memperhatikan kelestarian habitat alami perencanaan pengembangan kawasan wisata.
penyu Pantai Trisik. Penelitian menyimpulkan bahwa arah
pengembangan yaitu berupa wadah kegiatan
Tabel 3 berupa kajian analisis SWOT untuk pemeliharaan penyu yang dilakukan oleh
mencari solusi dari faktor-faktor negatif, dan Komunitas Penyu Abadi Pantai Trisik, serta
merumuskan jenis pemanfaatan dari faktor- wadah wisata edukasi yang diperuntukkan bagi
faktor positif kawasan pengembangan masyarakat umum (Tabel 3 butir a). Sebagai
konservasi penyu Pantai Trisik. Faktor-faktor wadah wisata edukasi, pengembangan
positif dapat menjadi sebuah strategi untuk kawasan konservasi penyu Pantai Trisik perlu
menyusun dan mengembangkan gagasan untuk memperhatikan aspek estetika dan keunikan
memperbaiki faktor-faktor negatif di kawasan dari obyek yang disampaikan dan dipamerkan.
Pantai Trisik. Dalam ranah perancangan obyek arsitektur, hal
tersebut merujuk pada pengolahan massa dan
Tabel 3. Analisis SWOT tampilan bangunan. Menurut Suardana (2005),
OPPORTUNITIES THREATS suatu obyek wisata harus memiliki olah massa
[a] Perencanaan [b] Pengembangan bangunan dan tampilan bangunan yang
wadah kegiatan kawasan konservasi dinamis, serta tidak monoton dalam
pemeliharaan penyu penyu Pantai Trisik penggunaan warna dan material. Olah bentuk
S Komunitas Penyu menjadi suatu yang dinamis tersebut harus dapat
T Abadi Pantai Trisik wadah wisata menunjukkan identitas fungsi bangunan, yaitu
R yang juga berfungsi edukasi dengan
sebagai bangunan wisata penyu agar
E sebagai wadah tetap menjaga
N wisata edukasi bagi kelestarian alami memberikan kesan kepada wisatawan. Aspek
G masyarakat umum habitat peneluran estetika sebagai bangunan wisata juga perlu
T penyu Pantai Trisik diimbangi dengan fungsi bangunan sebagai
H [c] Pengembangan wadah pemeliharaan penyu di pesisir Pantai
S kawasan konservasi Trisik. Menurut Departemen Kelautan dan
penyu Pantai Trisik Perikanan (2006), olah bentuk bangunan
menjadi wadah pesisir pantai harus dapat merespon struktur
wisata edukasi dan dinamika alam setempat. Selain itu, untuk

49
Arsitektura : Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan, Vol. 18 (1) April 2020: 43-52

pengolahan tampilan bangunannya harus (Departemen Kelautan dan Perikanan, 2006).


memiliki harmonisasi dengan lingkungan Bentuk-bentuk yang dipilih yaitu bentuk yang
sekitar (Departemen Kelautan dan Perikanan, memiliki kekuatan menahan gaya aksial yang
2006), yang dalam hal ini yaitu pesisir Pantai baik, salah satunya yaitu segi empat.
Trisik.
Analisis ketiga yaitu kajian faktor negatif
Analisis kedua yaitu dengan
kelemahan (weakness) dengan
mempertimbangkan potensi faktor kekuatan
mengelaborasikan faktor positif peluang
(strengths) untuk menyusun strategi
(opportunities). Analisis memberikan hasil
mengurangi faktor ancaman (threats) pada
bahwa perencanaan wadah kegiatan
kawasan konservasi penyu Pantai Trisik.
pemeliharaan dan wisata edukasi penyu Pantai
Analisis memberikan hasil bahwa
Trisik, dilakukan dengan memenuhi standar
diperlukannya pengembangan kawasan
pedoman teknis pengelolaan konservasi penyu
konservasi penyu Pantai Trisik menjadi suatu
menurut Direktorat Konservasi dan Taman
wadah wisata edukasi, dengan tetap menjaga
Nasional Laut (Tabel 3 butir d). Dalam ranah
kelestarian alami habitat peneluran penyu
perancangan obyek arsitektur, hal tersebut
Pantai Trisik (Tabel 3 butir b). Dalam ranah
merujuk pada pengolahan ruang. Sebagai
perancangan obyek arsitektur, hal tersebut
wadah wisata edukasi penyu, ruang-ruang
merujuk pada pengolahan tapak. Olah tapak
dirancang memiliki suasana yang bebas dan
pengembangan kawasan konservasi laut perlu
nonformalError! Reference source not
menghindari kontak langsung antara area
found.. Sebagai wadah kegiatan pemeliharaan
wisata dengan area peneluran alami, dan
penyu, ruang-ruang harus diolah dengan
penyediaan minimal 60% lahan vegetasi
spesifikasi karakteristik ruang yang mewadahi
(Departemen Kelautan dan Perikanan, 2006).
kegiatan pengembangbiakan penyu dengan
Lebih lanjut, menurut Departemen Kelautan
tetap mempertahankan sifat alami masing-
dan Perikanan (2006), penghindaran kontak
masing jenis penyu di habitat aslinya
langsung antara area wisata dengan area
(Departemen Kelautan dan Perikanan, 2006).
peneluran alami, salah satunya dilakukan
Hal tersebut diwujudkan dengan pemenuhan
dengan pengaturan ketinggian bangunan agar
standar spesifikasi kolam penangkaran
tidak tertangkap sudut pandang penyu sebesar
berdasar Pedoman Teknis Konservasi Penyu
15 derajat (lihat Gambar 6). Adapun jenis
(Direktorat Konservasi dan Taman Nasional
vegetasi yang diperlukan yaitu vegetasi
Laut, 2009). Pengadaan karakteristik habitat
perangsang penyu bertelur ke pantai, yaitu
penyu pada pengembangan kawasan
pandan laut, cemara laut, dan ketapang.
konservasi penyu Pantai Trisik dapat dilihat
pada Tabel 4 berikut.

Tabel 4. Pengadaan Karakteristik Habitat Penyu


pada Kolam Penangkaran
Gambar 6. Pengaturan Ketinggian Bangunan
Spesifikasi Kolam Penangkaran
Sumber: Direktorat Konservasi dan Taman
Standar Bentuk Visual Elemen Lansekap
Nasional Laut, 2009, diolah
Luasan Air
Kolam Penetasan Telur Semi Alami
Hasil berikutnya yaitu pengembangan kawasan 2 m2/ Kolam berarus a. Pasir pantai
konservasi penyu Pantai Trisik menjadi wadah lubang dengan sebagai media
wisata edukasi dengan memperhatikan aspek kedalaman 20- penetasan telur.
resiliensi bangunan terhadap bencana alam 30 cm, untuk b. Vegetasi
(Tabel 3 butir c). Wilayah kepesisiran Pantai merangsang pandan laut
Trisik rentan terhadap bencana gempa bumi tukik yang yang
dan tsunamiError! Reference source not sudah menetas merupakan
found.. Resiliensi bangunan terhadap bencana untuk bergerak tanaman tempat
alam tersebut merujuk pada pengolahan bentuk ke kolam tukik induk penyu
massa bangunan agar dirancang dengan menaruh telur
di habitat
merespon struktur dan dinamika alam setempat
aslinya.

50
Chiquita Darmarani, Mohamad Muqoffa, Ummul Mustaqimah, Identifikasi Aspek Pengembangan….

Kolam Tukik butir e). Perencanaan pengembangan kawasan


0,5 m2/ Kolam berarus Padang lamun konservasi penyu Pantai Trisik secara
tukik dengan pada dasar kolam keseluruhan menggunakan prinsip desain
kedalaman 20- sebagai makanan rekreatif dan prinsip pengembangan kawasan
30 cm, sebagai tukik. konservasi laut daerah. Konsep ini
wadah tukik
disimpulkan menjadi sebuah konsep yang
belajar
berenang paling tepat untuk mengurangi semua potensi
Kolam Penyu Sisik Dewasa konflik yang ada di kawasan pengembangan
4 m2 / Kolam tidak Terumbu karang konservasi penyu Pantai Trisik.
penyu berarus dengan dan rumput laut
remaja kedalaman sebagai makanan 4. KESIMPULAN
15 m2 / minimal 3 penyu sisik.
penyu meter dengan
Penelitian ini menyimpulkan beberapa hal
dewasa elemen pokok yang dapat diimplementasikan pada
pembatas untuk pengembangan kawasan konservasi penyu
membatasi Pantai Trisik, untuk menjadi dasar
interaksi perencanaan pembangunan di masa depan.
pengunjung Prinsip desain rekreatif dengan tetap
Kolam Penyu Lekang Dewasa mempertimbangkan pedoman teknis
4 m2 / Kolam tidak Ikan-ikan kecil pengembangan kawasan konservasi laut
penyu berarus dengan sebagai makanan menjadi strategi utama perencanaan
remaja kedalaman penyu lekang pengembangan kawasan konservasi penyu
15 m2 / minimal 3 beserta terumbu Pantai Trisik. Kesinambungan dari kedua teori
penyu meter dengan karang.
dewasa elemen
tersebut dapat mewujudkan wisata edukasi
pembatas untuk penyu yang rekreatif, tetapi tetap
membatasi memperhatikan fungsi utama sebagai
interaksi pendukung kegiatan konservasi laut daerah,
pengunjung sehingga tidak merusak habitat alami di Pantai
Trisik. Prinsip desain rekreatif dan prinsip
Kolam Penyu Hijau Dewasa pengembangan kawasan konservasi laut
4 m2 / Kolam berarus Padang lamun daerah diaplikasikan untuk mengolah ruang,
penyu dengan pada dasar kolam tapak, serta bentuk dan tampilan
remaja kedalaman 3 sebagai makanan menyesuaikan kebutuhan kegiatan.
15 m2 / meter. Untuk penyu hijau.
penyu kolam yang Olah tapak pada pengembangan kawasan
dewasa berfungsi konservasi penyu Pantai Trisik dibuat agar
sebagai kolam menghindari kontak langsung antara area
interaksi, wisata dengan area peneluran alami, serta
diperbolehkan tersedia 60% lahan untuk area vegetasi dengan
membuat
jenis vegetasi yang banyak tumbuh di Pantai
kolam dengan
kedalaman 50 Trisik.
cm, yang berisi Olah ruang pada pengembangan kawasan
penyu remaja. konservasi penyu Pantai Trisik dibuat agar
Sumber: Direktorat Konservasi dan Taman memiliki suasana yang bebas dan nonformal
Nasional Laut, 2009 (diolah) serta dapat mewadahi kegiatan
pengembangbiakan penyu dengan tetap
Analisis keempat yaitu dengan mempertahankan sifat alaminya, melalui
mempertimbangkan kedua faktor negatif di pengadaan elemen air dan lansekap di dalam
kawasan penelitian, yaitu faktor kelemahan massa bangunan pemeliharaan penyu.
(weaknesses) dan faktor ancaman (threats).
Elaborasi dari kedua faktor negatif tersebut Olah bentuk pada pengembangan kawasan
dengan mempertimbangkan faktor positif di konservasi penyu Pantai Trisik dibuat dinamis
kawasan menghasilkan sebuah resume analisis dan merespon struktur dan dinamika alam
konsep sistem perencanaan terpadu (Tabel 3 setempat, melalui olah bentuk yang

51
Arsitektura : Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan, Vol. 18 (1) April 2020: 43-52

menunjukkan identitas bangunan sebagai


bangunan wisata penyu dan memiliki kekuatan
dalam menahan gaya aksial tapak Pantai
Trisik.
Olah tampilan pada pengembangan kawasan
konservasi penyu Pantai Trisik dibuat agar
memiliki permainan warna dan tekstur dan
harmonis dengan lingkungan, melalui
pemilihan material bangunan.

REFERENSI
Error! No bookmark name given.

52

You might also like