Trisik Beach Turtle Conservation Tourism
Trisik Beach Turtle Conservation Tourism
DOI: [Link]
Received: October 4, 2019 Revised : March 20,2020 Accepted: March 20,2020 Available online:April 30, 2020
Abstract
Sea turtle is classified into endangered animal. One of the areas which is designated as sea turtle
conservation area in Indonesia is located at Trisik Beach, Kulonprogo. The government’s sea turtle
conservation effort is supported by the Penyu Abadi Conservation Group, that has been carrying out
sea turtle conservation activities since 2004. By the development of this conservation activities, in
2018, Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta finally planned a development program for
the attractiveness of sea turtle conservation areas on the southern coast of Yogyakarta, including
Trisik Beach. One form of developing the attraction of conservation areas is sea turtle educational
tourism object. The development of a sea turtle conservation area into a tourist attraction for sea
turtle education should not disturb the balance of the natural ecosystem of Trisik Beach sea turtle
nesting. Therefore, the problem formulated in this research is what aspects must be fulfilled to
realize the recreational sea turtle educational tourism, by paying attention to its main function as a
supporter of regional marine conservation activities. The problem solving is done by applying the
applied research methods, namely the type of research that aims to provide practical solutions for
the problem. This research produced some guidelines that can be implemented in the development of
Trisik Beach sea turtle conservation area, to be the basis for future development planning.
Keywords: sea turtle conservation, educational tourism, Trisik Beach, recreational design principle,
development of regional marine conservation areas principle
(b)
(c)
44
Chiquita Darmarani, Mohamad Muqoffa, Ummul Mustaqimah, Identifikasi Aspek Pengembangan….
Gambar 2. Jenis-jenis Penyu Pantai Trisik pemantauan penyu bertelur harus dilakukan
Sumber: Direktorat Konservasi dan Taman dengan hati-hati, karena penyu sangat sensitif
Nasional Laut, 2009 saat bertelur. Pengamatan harus dilakukan dari
Tabel 1. Karakteristik Penyu Pantai Trisik jarak yang relatif jauh, tidak berisik, dan tidak
Ciri-Ciri Makanan Jumlah
boleh menyalakan sinar. Waktu yang
Telur
dibutuhkan oleh seekor penyu dari saat muncul
Penyu Sisik
dari laut hingga kembali ke laut berkisar antara
• Panjang lengkung Termasuk 130
karapas berkisar 90 karnivora butir 1-11 jam. Waktu tersebut dipengaruhi oleh
cm (memakan tiap jenis penyu, tingkat gangguan yang dihadapi
• Memiliki muka karang kali penyu, dan kondisi fisik pantai yang
yang kecil dan lunak, cumi, bertelur bersangkutan. Setelah proses peneluran
rahang seperti udang) selesai, pemantau kemudian memindahkan
paruh rajawali telur-telur tersebut ke area penetasan telur
• Terdapat 4 pasang semi alami. Pemindahan tersebut dilakukan
lempengan pada untuk menyelamatkan sarang telur dari
karapas gelombang air laut, agar telur tidak mengalami
Penyu Lekang pembusukan (Direktorat Konservasi dan
• Jenis penyu yang Termasuk 110 Taman Nasional Laut, 2009).
berukuran paling omnivora butir
kecil (memakan tiap
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi
• Panjang lengkung kepiting, kali
karapas berkisar 70 udang, bertelur aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam
cm lobster, mengembangkan kawasan konservasi penyu
• Karapasnya lamun, alga, Pantai Trisik sebagai wadah wisata edukasi di
berwarna hijau ikan kecil) Kulonprogo. Sasaran jangka pendek yang
tetara diharapkan adalah untuk mempersiapkan
• Terdapat 6 atau perencanaan destinasi wisata Pantai Trisik,
lebih pasang yang dapat dilakukan oleh segenap pemangku
lempeng karapas kebijakan dan pelaku wisata di Kulonprogo.
Penyu Hijau Sasaran jangka panjang yaitu untuk menjaga
• Merupakan penyu Termasuk 115 kelestarian habitat alami peneluran penyu
terbesar kedua herbivora butir Pantai Trisik, serta menarik minat pengunjung
• Memiliki 4 pasang (memakan tiap untuk datang dan turut serta menjaga
lempeng karapas lamun dan kali
kelestarian penyu.
• Jaringan lemak alga) bertelur
pada siripnya
berwarna hijau
Pengembangan daya tarik kawasan konservasi
• Bentuk karapas penyu di Pantai Trisik perlu memperhatikan
menyerupai bentuk permasalahan yang dihadapi oleh Kelompok
hati Konservasi Penyu Abadi dalam upaya
Sumber: WWF Indonesia, 2011 penyelamatan penyu selama ini. Kelompok
Konservasi Penyu Abadi terkendala oleh
Penyu betina akan naik ke pantai saat masa minimnya sarana dan prasarana penangkaran
peneluran tiba. Setiap jenis penyu memiliki penyu di Pantai TrisikError! Reference
waktu peneluran yang berbeda satu sama lain. source not found.. Kegiatan konservasi yang
Penyu hijau memiliki waktu peneluran pada dilakukan saat ini belum didukung oleh
pukul 21.00 hingga pukul 02.00. Penyu lekang fasilitas penunjang yang memadai, serta belum
memiliki waktu peneluran pada pukul 20.00 terdapat sarana terpusat yang dapat digunakan
hingga pukul 00.00. Penyu sisik memiliki sebagai sumber informasi bagi masyarakat
waktu peneluran yang tidak pasti, yaitu kadang umum dan memaksimalkan potensi rekreasi
malam hari atau pun siang hari (Direktorat Pantai Trisik (lihat Gambar 3). Sejauh ini,
Konservasi dan Taman Nasional Laut, 2009). terdapat 4 bak penampung penyu berukuran
masing-masing 1x2 meter yang tidak
Kegiatan konservasi dimulai melalui kegiatan dilengkapi saluran penyediaan air asin. Jumlah
pemantauan penyu bertelur. Kegiatan dan ukuran bak tersebut, tidak sebanding
45
Arsitektura : Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan, Vol. 18 (1) April 2020: 43-52
dengan jumlah penyu yang mencapai puluhan Gambar 4. Kondisi Kolam Penangkaran Penyu di
ekor. Kepadatan di bak penampung tersebut Pusat Konservasi Penyu Abadi Pantai Trisik
memicu stress pada penyu dan menyebabkan
kematian. Selain itu, suplai air untuk habitat Permasalahan dalam penelitian ini yaitu aspek
penyu selama ini berasal dari air sumur buatan apa saja yang harus dipenuhi untuk
yang berisi air asin resapan. Hal tersebut mewujudkan wisata edukasi penyu yang
menyebabkan munculnya jamur di bak-bak rekreatif, tetapi tetap memperhatikan fungsi
penampung penyu, yang kemudian utamanya sebagai pendukung kegiatan
mempengaruhi kesehatan penyu (lihat Gambar konservasi laut daerah. Dari permasalahan
4). tersebut diambil keputusan bahwa
pengembangan daya tarik kawasan konservasi
penyu di Pantai Trisik sebagai wisata edukasi,
tidak hanya berorientasi pada prinsip desain
yang rekreatif, namun juga harus memenuhi
persyaratan teknis pengembangan kawasan
konservasi laut daerah. Teori yang digunakan
dalam penelitian ini yaitu teori prinsip desain
rekreatif menurut Suardana dan teori
pengembangan kawasan konservasi laut
daerah menurut Departemen Kelautan dan
Perikanan.
Prinsip desain rekreatif digunakan untuk
menghasilkan pengembangan kawasan
konservasi penyu Pantai Trisik yang
menyenangkan, memiliki daya tarik wisata
yang unik, serta memiliki identitas bangunan
yang khas. Prinsip desain rekreatif menurut
Suardana (2005), terdiri dari:
a. Bentuk dan tampilan bangunan yang
dinamis
b. Suasana ruang bebas dan non formal
Gambar 3. Kondisi Pusat Konservasi Kelompok c. Tidak monoton dalam penggunaan warna
Penyu Abadi Pantai Trisik dan material
d. Tata bangunan memudahkan sirkulasi
pengunjung dalam berwisata
46
Chiquita Darmarani, Mohamad Muqoffa, Ummul Mustaqimah, Identifikasi Aspek Pengembangan….
Trisik, sebagai habitat alami penyu hijau, konservasi laut daerah, serta data tentang
penyu sisik, dan penyu lekang. Penjabaran pengembangan obyek wisata edukasi. Data
prinsip pendekatan ekosistem antara lain: yang diperoleh kemudian dianalisis dengan
1) Menghindari kontak langsung antara teknik analisis SWOT. Teknik analisis SWOT
area wisata dengan area peneluran dipilih karena dianggap mampu melihat
alami. persoalan dari empat sisi sekaligus, baik dari
2) Tidak banyak menggunakan lahan agar sisi positif maupun sisi negatifnya. Keempat
area vegetasi pantai tetap terjaga. sisi tersebut adalah sisi kekuatan (strengths),
3) Merespon struktur dan dinamika alam sisi kelemahan (weakness), sisi peluang
setempat. (opportunities), dan sisi ancaman (threats).
4) Harmonisasi bangunan dengan Analisis SWOT dapat digunakan secara ampuh
lingkungan setempat. untuk menentukan langkah terbaik
b. Prinsip keterbukaan penyelesaian masalah Error! Reference
Prinsip keterbukaan berarti kegiatan source not found.. Analisis data kemudian
konservasi meliputi kegiatan pembesaran menghasilkan kriteria perencanaan
dan pengembangbiakan satwa liar dengan pengembangan kawasan konservasi. Kriteria
tetap mempertahankan sifat alaminya. yang didapat dari analisa data kemudian
Prinsip keterbukaan kawasan konservasi disimpulkan dalam bentuk kajian konsep
diterapkan pada pengolahan karakteristik perencanaan pengembangan kawasan
ruang dapat mewadahi kegiatan konservasi penyu Pantai Trisik sebagai wisata
pengembangbiakan penyu dengan tetap edukasi.
mempertahankan sifat alami penyu di
habitat aslinya.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Pantai Trisik merupakan kawasan penyu
2. METODE
dewasa dari Samudera Hindia naik ke kawasan
Metode penelitian yang digunakan adalah pesisir untuk bertelur. Jenis penyu yang
penelitian terapan. Penelitian terapan adalah bertelur di Pantai Trisik terdiri dari penyu
jenis penelitian yang bertujuan untuk sisik, penyu lekang, dan penyu hijau. Area
memberikan solusi atas permasalahan tertentu bertelur alami bagi penyu dewasa berada di
secara praktis. Penelitian ini tidak berfokus rerimbunan vegetasi pandan laut, yang
pada pengembangan sebuah ide, teori, atau berbatasan langsung dengan tapak. Letak area
gagasan, tetapi lebih berfokus pada penerapan peneluran alami penyu terhadap area
penelitian tersebut. pengembangan dapat dilihat pada Gambar 5
Penelitian diawali dengan tahapan perumusan berikut.
permasalahan dalam melakukan
pengembangan kawasan konservasi penyu
Pantai Trisik. Tahap berikutnya yaitu
pengumpulan data yang terdiri dari data primer
dan data sekunder. Data primer terdiri dari
data kondisi lapangan yang didapatkan melalui
observasi pada tapak di Pantai Trisik, Desa
Banaran, Kabupaten Kulonprogo. Data primer
yang diperoleh meliputi luasan tapak, batas
tapak terhadap kawasan sekitar, serta kondisi
iklim dan geografis tapak. Data sekunder
adalah data yang diperoleh melalui sumber
referensi. Data sekunder yang diperoleh
meliputi data tentang kawasan wisata Pantai
Trisik, data tentang standar ketersediaan
sarana dan prasana konservasi penyu, data
tentang standar pengembangan kawasan
47
Arsitektura : Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan, Vol. 18 (1) April 2020: 43-52
48
Chiquita Darmarani, Mohamad Muqoffa, Ummul Mustaqimah, Identifikasi Aspek Pengembangan….
49
Arsitektura : Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan, Vol. 18 (1) April 2020: 43-52
50
Chiquita Darmarani, Mohamad Muqoffa, Ummul Mustaqimah, Identifikasi Aspek Pengembangan….
51
Arsitektura : Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan, Vol. 18 (1) April 2020: 43-52
REFERENSI
Error! No bookmark name given.
52